Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
“Mbak nggak kedinginan?” Jaka mencoba menggoda
perempuan di sebelahnya.
Beberapa detik, Jaka masih saja menunggu
jawaban. Jaka terus men-scan perempuan di sebelahnya: sandal jepit; kaki yang
jenjang dengan rok beberapa senti di atas lutut; satu inci bagian perut
terbuka; tshirt ekstra ketat; kulit putih; paras yang menarik; blackberry
gemini yang digenggam erat, entah yang apa di otaknya mendapati pemandangan
“indah” itu.
Dara, si perempuan, sontak berdiri, merasa
terganggu dengan pandangan itu beralih ke sisi lain tembok teras sempit apotek
itu. Tangannya lantas sibuk menurunkan bagian bawah t-shirt ketatnya hingga
menutupi sela-sela perutnya yang sedikit terlihat.Tiba-tiba hilang rasa
pedenya, rasa bangga atas status ‘gaul’ yang ia coba bangun dengan pakaiannya
yang serba mini itu.
Perasaan gondok mulai menguasainya, risih dan
sebal kepada pemuda iseng yang sama sekali tak pernah didapatinya sebelum ia
mengantri di apotek itu.
“Mbak, bajunya seksi banget loh, nggak takut
digodain?” Jaka mengumpankan sebuah pertanyaan lagi.
Sewot dan marah Dara menjawab, “Biarin,
badan-badan gue, terserah gue pake baju kek gimana! Toh apntes-pantes aja gue
pake baju kayak gini!! Mata lo tuh gak bisa dijaga, jelalatan banget sih!!”
“Lah, terserah mata saya mbak, wong saya yang
punya mata kok mbak sewot? Bukannya mbak pake pakean gitu biar menarik, nih
saya tertarik, harusnya mbak bersyukur dong?” Jaka menjawab dengan nada yang
santai.