Tidak ada yang kekal di dunia ini. Setiap ada kelahiran pasti ada kematian,
setiap ada kesenangan pasti ada kesedihan, dan setiap ada perjumpaan pasti
diakhiri dengan perpisahan. Aku sangat meyakini semuanya. Yang tetap tak
kumengerti, mengapa selalu saja air mata ini jatuh di pipiku saat perpisahan itu
datang menjelang.
“Itu manusiawi, Nduk,” kata Bapak memecahkan
keheningan suasana.
Sore ini, keluarga besar kami sedang berkumpul.
Awalnya gelak tawa menghiasi ruang keluarga yang tak seberapa besar ini karena
cerita-cerita masa lalu kami yang penuh dengan keprihatinan, namun terasa
menggelikan.
Ibu duduk di depan mesin jahitnya, seusai menjahit celana
Thariq, putraku. Bapak duduk tepat di belakang Ibu, sambil sesekali melihat
berita di tivi. Aku, adik bungsu kami, adik perempuanku dan suaminya duduk di
karpet, juga di depan tivi. Sedangkan dua jundi kecil sedang tidur pulas di
kamarnya masing-masing. Dan suamiku tak hadir dalam pertemuan keluarga ini
karena sedang melanjutkan studi ke negeri Jiran.
Ya, aku baru datang ke
kota kelahiranku 3 hari yang lalu. Kantor tempat aku bekerja memberikan izin
cuti, untuk menengok ponakanku yang baru berusia sebulan.