Di dalam perjalanan menuju kantor, saya terlelap menikmati sejuknya udara dalam
bis. Tak terasa hingga kondektur bis membangunkanku untuk menagih ongkos, dengan
mataku yang masih merejap kuulurkan sejumlah uang untuk membayar ongkos bis. Dan
… samar mataku menangkap sosok seorang ibu setengah baya berdiri tak jauh dari
tempatku duduk. Tapi, rasa kantuk dan lelah ku mengalahkan niat baik untuk
memberikan tempat duduk untuk ibu tersebut.
Turun dari bis, baru lah
sisi baik hati ini bergumam, “Andai saya berikan tempat duduk kepada ibu tadi,
mungkin pagi hari ini keberkahan bisa kuraih”. “Siapa tahu ridha Allah untuk ku
di hari ini dari doa dan terima kasih ibu itu jika saja kuberikan tempat
dudukku…” Ah, kenapa baru kemudian diri ini menyesal?
Semalam dalam
perjalanan pulang dengan kereta api, duduk di hadapan saya seorang bapak berusia
40-an. Lewat seorang penjual air minum kemasan, dan ia segera menyetopnya untuk
membeli. Tangan kirinya memegang segelas air minum kemasan sementara tangan
satunya merogoh-rogoh kantongnya. Sesaat ia memperhatikan beberapa keping yang
ia mampu raih dari bagian terdalam kantongnya, ternyata … ia mengembalikan
segelas air minum kemasan yang sudah digenggamnya kepada penjual air sambil
menahan rasa hausnya.