17 Sept 2012

♥♥ BERANI MENCINTAI ,HARUS SIAP UNTUK MENIKAH ♥♥



Ketika memutuskan untuk siap mencintai, selanjutnya kita harus bersiap memasuki pintu gerbang cinta yang sebenarnya. Ya. gerbang itu bernama PERNIKAHAN. MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.

MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuhnya cinta, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil. MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kan diuji sejauh mana pembuktian cinta mereka yang sebenarnya. Karena MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan kita. Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana kita bisa memahami orang lain…?? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana kita bisa memperhatikan pasangan hidup…??

KEHILANGAN KEHORMATAN YANG BERAKIBAT KETAATAN



Seorang pemuda yang komitmen beragama maju untuk menikah. Dia mulai mencari calon pasangan perempuan. Syarat satu-satunya adalah agar dia seorang wanita yang komitmen, berakhlak, dan kuat agama. Dan setelah melalui pencarian, kini dia telah menemukan gadis tersebut, sebagaimana ciri-ciri yang diinginkan.

Setelah melamar, dan ketika ia telah bersiap-siap untuk menikah, tiba-tiba calon mempelai perempuan menolak dan mengatakan bahwa dia tidak ingin menikah. Keluarganya terheran melihat keputusannya yang mengagetkan, setelah sebelumnya memberikan kesanggupan. Pemuda itu meminta sang gadis untuk menjelaskan penolakannya, namun justru ia membawakan alasan-alasan yang lemah. Setelah itu, perkaranya ditangani oleh ibunya yang merasa sangat sedih dengan keputusan ini. Terlebih, pemuda itu terkenal dengan bagus akhlak dan budi pekertinya.

•♥• LELAKI PENEMBUS HUJAN •♥•


Aku tak mungkin menyalahkan Allah. Karena dengan izinNya langit menjadi kelabu. Dengan kuasaNya pula Ia hentakkan gundala di setiap penjuru langit. Lalu, satu persatu jutaan cintaNya jatuh menghujam bumi. Di bawah sebatang akasia aku terperangkap, sebab hujan tak kunjung reda. Tubuhku menggigil akibat mendekap erat sebuah janji. Segenggam kata yang telah kita ikrarkan kala senja tempo hari.

Sebenarnya ingin kutembus saja rinai-rinai hujan ini. Tapi, aku sudah tak kuasa. kakiku seperti tertanam, berat untuk melangkah. Tubuhku serasa beku, karena terus dipeluk hujan sepanjang perjalanan tadi. Benar-benar tak sanggup lagi kukayuh sepeda ini. Kupandangi kembali langit, berharap Allah lembutkan sejenak bait-bait cintaNya.

Featured Post

Jangan Tertipu oleh Banyakanya Amal

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak amalan sholeh dan menahan diri dari perbuatan dosa. Se...