Aku tak mungkin menyalahkan Allah. Karena dengan
izinNya langit menjadi kelabu. Dengan kuasaNya pula Ia hentakkan gundala di
setiap penjuru langit. Lalu, satu persatu jutaan cintaNya jatuh menghujam bumi.
Di bawah sebatang akasia aku terperangkap, sebab hujan tak kunjung reda.
Tubuhku menggigil akibat mendekap erat sebuah janji. Segenggam kata yang telah
kita ikrarkan kala senja tempo hari.
Sebenarnya ingin kutembus saja rinai-rinai hujan
ini. Tapi, aku sudah tak kuasa. kakiku seperti tertanam, berat untuk melangkah.
Tubuhku serasa beku, karena terus dipeluk hujan sepanjang perjalanan tadi.
Benar-benar tak sanggup lagi kukayuh sepeda ini. Kupandangi kembali langit,
berharap Allah lembutkan sejenak bait-bait cintaNya.
Dalam keadaan menggigil terus kulantunkan doa itu.
Sebab, Aku tak mau disebut seorang munafik. Karena telah menciderai sepotong
janji. Meskipun bisa saja aku berkilah, ini karena hujan. Sedangkan di sini ada
kecemasan lain menghampiri. Aku cemas apakah kau masih menantiku. mugkinkah kau
masih setia di sana. Menggenggam erat janji kita sore itu.
Sebenarnya, dari awal sudah kuingatkan bahwa kau tak
usah berharap banyak. Pada lelaki yang di kutuk malam ini. Aku memang lelaki.
Tapi, aku bukan lelaki tangguh yang bisa menembus hujan. Aku juga bukan seorang
pemberani, yang mampu berdiri gagah menantang petir. Maka, berulang kali aku
mengingatkan. Tentang kekhawatiran yang menjadikanmu kecewa. Bahwa bisa saja,
diriku tak mampu menghadirkan pelangi seperti yang kau pinta.
Namun, kau tetap kukuh. Mengabaikan semua
kelemahan-kelemahanku seperti angin lalu. Kau tanggapi semua cerita itu dengan
senyuman. Aku tak mengerti. Dengan kaca mata apa kau menilai lelaki malang ini.
Apakah bulir-bulir hujan telah rabunkan matamu. Dalam rona merah senja tempo
hari itu, kau ungkapkan alasannya. Kau ingin mencintaiku dalam kesederhanaan.
Inilah yang meyakinkanku untuk mau menembus hujan.
Mengabaikan semua cemoohan orang-orang, yang melihatku terseok-seok mengayuh
sepeda di tengah derasnya hujan. Bodoh sekali memang. Tapi aku tetap tak
peduli. Sebab, sepotong kalimatmu senja itu adalah untaian paling tulus yang
pernah kudengar.
Maka sebenarnya aku bersyukur, karena Allah telah
turunkan hujan selebat-lebatnya. Hentakkan petir segagah-gagahnya. Tiupkan
angin sejadi-jadinya. Aku melihat semua itu bukan sebagai kendala. Tapi, semua
itu telah mengantarkanku pada sebuah kesempatan. Bahwa segala sangka kita akan
terbukti hari ini. Segala ucap kita akan tampak wujudnya.
Di bawah tadarus hujan, dengan segenap kekuatan yang
kumiliki. Aku akan berupaya untuk buktikan, bahwa akan kupenuhi janjiku untuk
menemuimu di ujung desa. Di rumah Allah yang letaknya di kaki bukit. Kita akan
berjumpa di sana, tepat sebelum azan mahgrib tiba.
Demikian juga dirimu, kan terbukti sejauh mana ucap
tulusmu itu. Apakah kau takluk dengan sang waktu. Tetap setia menabuh rindu.
Atau jangan-jangan kau memang tak ada di sana. Sekerat janji hari itu hanya
basa-basi saja. Entahlah, di bawah tadarus hujan ini kan kita buktikan
segalanya.
Langit masih tetap kelabu. Tak ada tanda-tanda hujan
akan reda. Kutarik nafasku dalam-dalam, untuk mengumpulkan satu-satu tenaga
yang masih tersisa. Kuraih kembali sepedaku. Lalu perlahan-lahan kembali
terseok-seok menembus hujan.
Perlahan-lahan aku kian jauh meninggalkan batang
akasia. Samar-samar telah terlihat, kubah rumah Allah tampak menjulang langit.
Aku kian dekat. Jutaan cinta Allah masih terus menghujam tubuhku.
Akhirnya, aku tiba dengan segenap asa. Kusandarkan
sepedaku di dinding "rumah Allah" itu. Mataku awas menatap
sekilingnya. Namun, tak seorang pun kutemukan di sana. Sedangkan hari semakin
senja. Seperti yang kukhawatirkan. Saat magrib telah tiba, saat itu pula
luruhlah segala keyakinanku padamu.
Kukumandangkan azan lalu kutegakkan perintah Allah
itu seorang diri. Kala itu, sebuah keyakinan baru hadir. Yang sebenarnya telah
lama mendengung-dengung dalam qalbu. Namun, karena mungkin selama ini aku tak
peduli. Bahwa sesungguhnya, hanya Allah yang benar-benar setia menanti.
No comments:
Post a Comment