Di sepertiga malam yang terakhir, dikala kami masih asyik dengan mimpi-mimpi,
teman saya bangun. Ia mengambil wudhu, kemudian berdiri tegak menghadap Yang
Maha Rahman. Lama ia berdiri dan tidak juga ruku atau sujud. Tiba-tiba ia salam.
Saya jadi terheran-heran. Shalat mayit kah ia? Atau shalat ghaib? Tapi untuk
siapa?
Esok paginya, ia bercerita. Bahwa ia memang telah shalat mayit
tadi malam. Khusus ditujukan pada sang majikan. Agar cepat-cepat mati saja.
Sebab manusia semacam itu sudah tidak layak lagi hidup bersama mahluk yang
bernama manusia. Tuturnya pada saya.
Sedang teman saya yang satu lagi
sibuk dengan pekerjaan lain. Setiap petang, ketika majikannya sudah masuk ke
rumah, ia cepat-cepat ke tempat jemuran pakaian. Siapa tahu ada celana dalam
atau pakaian lain milik majikannya, yang tertinggal di sana. Ia akan
mengambilnya. Kemudian ia akan beri mantra-mantra yang katanya dari seorang
dukun santet. Biar majikannya lebih punya kasih sayang terhadap
pekerjanya.
Kemudian teman saya yang lain juga tidak kalah usahanya dalam
menaklukan bos-nya. Ia sedang minta informasi pada teman-temannya yang kerja di
bangunan luntuk mencarikan telur ayam kampung yang masih segar. Ia akan
menuliskan di seluruh bulatan telur itu dengan tulisan arab gundul, alias tanpa
kharakat. Intinya sama, agar si majikan jangan terus menerus berwatak seperti
singa kelaparan.