Di sepertiga malam yang terakhir, dikala kami masih asyik dengan mimpi-mimpi,
teman saya bangun. Ia mengambil wudhu, kemudian berdiri tegak menghadap Yang
Maha Rahman. Lama ia berdiri dan tidak juga ruku atau sujud. Tiba-tiba ia salam.
Saya jadi terheran-heran. Shalat mayit kah ia? Atau shalat ghaib? Tapi untuk
siapa?
Esok paginya, ia bercerita. Bahwa ia memang telah shalat mayit
tadi malam. Khusus ditujukan pada sang majikan. Agar cepat-cepat mati saja.
Sebab manusia semacam itu sudah tidak layak lagi hidup bersama mahluk yang
bernama manusia. Tuturnya pada saya.
Sedang teman saya yang satu lagi
sibuk dengan pekerjaan lain. Setiap petang, ketika majikannya sudah masuk ke
rumah, ia cepat-cepat ke tempat jemuran pakaian. Siapa tahu ada celana dalam
atau pakaian lain milik majikannya, yang tertinggal di sana. Ia akan
mengambilnya. Kemudian ia akan beri mantra-mantra yang katanya dari seorang
dukun santet. Biar majikannya lebih punya kasih sayang terhadap
pekerjanya.
Kemudian teman saya yang lain juga tidak kalah usahanya dalam
menaklukan bos-nya. Ia sedang minta informasi pada teman-temannya yang kerja di
bangunan luntuk mencarikan telur ayam kampung yang masih segar. Ia akan
menuliskan di seluruh bulatan telur itu dengan tulisan arab gundul, alias tanpa
kharakat. Intinya sama, agar si majikan jangan terus menerus berwatak seperti
singa kelaparan.
Saya pun juga ikut berusaha. Siapa sih yang mau punya
majikan galak? Apalagi jauh-jauh dari Indonesia, bekerja di Brunei, tentunya
ingin punya seorang majikan yang punya kasih sayang yang mendalam. Seperti kasih
seorang ibu kepada anaknya. Seperti kasih Allah kepada mahluknya. Seperti kasih
seekor induk ayam, yang akan terus melindungi anak-anaknya manakala diserang
bahaya.
Akhirnya, saya menelpon guru ngaji saya di kampung. Seorang kyai
muda yang pernah 'ngangsu kawruh', menimba ilmu, di pesantren Tegalrejo,
Magelang. Saya minta agar diberikan jalan keluar, atas ketidakmanusiawian sang
majikan. Dengan semangat, beliau memberikan nasehat syahdunya kepada saya.
Seperti ketika saya masih belajar padanya.
"Kedzaliman jangan dilawan
dengan kedzaliman. Kekerasan jangan kau lawan dengan kekerasan pula. Jadilah
umat Rasulullah, yang berusaha belajar untuk mengikuti tingkah laku Nabi. Jangan
mengaku jadi umat Muhammad SAW, tapi tingkah lakunya seperti Fir 'aun. Coba buka
kembali sirah Nabi. Bagaimana ketika Nabi diludahi oleh salah seorang Arab
dusun? Apa yang diperbuat nabi ketika ia dilempari batu di Thaif? Kau jangan
ikut cara-cara temanmu. Kamu muslim. Punya cara sendiri untuk menghadapi
kehidupan ini. Doakanlah agar majikanmu jadi orang baik-baik. Jika ia marah,
lawanlah dengan istighfar. Jika memaki, mencaci, lawanlah dengan tasbih, tahmid
atau takbir. Biar kau dapat investasi pahala. Biar kau berlindung di bawah
naungan-Nya yang begitu perkasa,"
Itu pesan guru ngaji saya. Waktu terus
berjalan. Teman-teman saya 'istiqomah' dengan cara mereka masing-masing. Sayapun
berusaha konsisten dengan cara yang diberikan guru ngaji saya. Dengan parameter
keislaman tentunya.
Sampai pada suatu waktu ada kejadian yang sungguh di
luar jangkauan pemikiran saya dan teman-teman. Dan juga tidak pernah terbayang
dalam otak kami yang dangkal ini. Serombongan polisi berseragam datang ke rumah
majikan kami. Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menangkap si majikan dan
dibawa ke mobil polisi. Kami dan seisi rumah bertanya-tanya. Ada apa dengan
majikan saya?
Sungguh, ini sebuah kejadian luar biasa. Sampai pada
ahirnya ia mendekam di penjara pemerintah. Informasi yang saya terima, ia ikut
terlibat dengan suatu kelompok, yang dilarang penguasa negara tempat kami kerja.
Sebuah kelompok sesat yang pernah punya anggota cukup fantastis di Malaysia dan
beberapa negara Asia Tenggara lainnya.
Saya dan teman-teman hanya bisa
saling berpandangan. Tak dapat bicara sepatah kata apapun. Hanya bergumam, bahwa
apa yang berlaku di dunia ini, sangat sering tidak bisa dijangkau oleh akal
pikiran manusia. Dan ini tentunya sebuah pelajaran bagi kami, bahwa tak
selamanya, seorang manusia akan gagah perkasa di depan manusia lainnya. Tak
selamanya seseorang akan bisa berbuat kedzaliman di hadapan
mahluk-Nya.
Entah karena apa hal ini terjadi dan menimpa majikan
laki-laki kami. Yang jelas ini adalah kehendak Penguasa Alam. Dan sudah barang
tentu sudah tercatat di dalam buku agung-Nya di Lauhil Makhfudz. Ini yang perlu
kita yakini, perlu kita imani. Bukan semata-mata usaha dari kawan-kawan saya,
apalagi doa saya yang kapasitas 'kemakbulannya' yang masih harus
dipertanyakan.
Dengan kekuatan seorang perempuan, akhirnya istri majikan
saya mengambil alih jadi pengelola perusahaan. Menejemen sekarang jauh berbeda
dengan ketika di pegang majikan laki-laki. Rupanya selama ditinggal 'nyantri' di
penjara oleh suaminya, perempuan ini sedikit menerapakan manajemen 'barokah'.
Artinya ia percaya betul dengan apa yang kami kerjakan. Tidak seperti ketika
suaminya mengendalikan usahanya. Yang kebanyakan memakai bentuk menejemen
seenake udele dhewek, semaunya sendiri. Sehingga dengan izin-Nya tentu saja,
usahanya berjalan lancar dan baik. Mesin-mesin pun jarang rusak. Sekali-kali
rusak pun mudah diatasi. Gaji lancar. Utang para konsumen juga terbayar walaupun
sedikit lambat. Istri sang majikan rupanya menyadari ini semua. Sekarang jarang
sekali marah-marah terhadap pekerjanya.
Dengan demikian kami bekerja
dengan tenang. Tidak ada bayangan ketakutan, jika sekali-kali melakukan
kesalahan yang tidak disengaja. Seolah wajah harimau yang pernah menghantui
pikiran kami para pekerja nyaris hilang sama sekali. Kami membayangkan,
seandainya keadaan seperti ini berjalan selamanya, tentu akan sangat indah. Akan
ada jalinan amat mesra antara seorang majikan dengan pekerjanya. Sehingga
segalanya akan menjadi berkah yang bertumpuk-tumpuk. Sebab tidak ada kecurigaan
majikan kepada pekerjanya. Sebaliknya tak akan ada umpatan di belakang dari para
pekerja kapada majikannya. Dan mudah-mudahan hal ini bisa terkabul kelak,
setelah sang majikan pulang dari 'pesantren'.
Saya jadi ingat kisah masa
pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sebuah pemerintahan yang sangat
diidamkan oleh rakyat manapun. Pemerintahan yang dipimpin oleh manusia yang
sangat takut pada Yang Maha Gagah Perkasa. Sehingga menurut kisah tersebut, pada
jaman kekuasaan khalifah yang sangat zuhud itu, seekor singa yang ganas saja
dapat akrab, alias bersahabat dengan seekor kijang. Yang nota bene adalah
makanan empuk bagi si singa. Luar biasa.
Mudah-mudahan ini bisa terjadi
pada majikan saya yang sedang di panggil Alloh SWt untuk mengikuti 'diklat'
kehidupan yang sebenarnya. Ia sedang berlaku sebagai ulat yang jadi kepompong.
Sehingga pada masanya nanti akan berubah menjadi seekor kupu-kupu yang amat
cantik. Yang terbang kemana-mana tanpa ditakuti oleh siapapun. Apalagi oleh para
pekerjanya. Semoga, semoga dan semoga.
***
No comments:
Post a Comment