15 Jan 2014

Kedzaliman itu Sementara Saja


Di sepertiga malam yang terakhir, dikala kami masih asyik dengan mimpi-mimpi, teman saya bangun. Ia mengambil wudhu, kemudian berdiri tegak menghadap Yang Maha Rahman. Lama ia berdiri dan tidak juga ruku atau sujud. Tiba-tiba ia salam. Saya jadi terheran-heran. Shalat mayit kah ia? Atau shalat ghaib? Tapi untuk siapa?

Esok paginya, ia bercerita. Bahwa ia memang telah shalat mayit tadi malam. Khusus ditujukan pada sang majikan. Agar cepat-cepat mati saja. Sebab manusia semacam itu sudah tidak layak lagi hidup bersama mahluk yang bernama manusia. Tuturnya pada saya.

Sedang teman saya yang satu lagi sibuk dengan pekerjaan lain. Setiap petang, ketika majikannya sudah masuk ke rumah, ia cepat-cepat ke tempat jemuran pakaian. Siapa tahu ada celana dalam atau pakaian lain milik majikannya, yang tertinggal di sana. Ia akan mengambilnya. Kemudian ia akan beri mantra-mantra yang katanya dari seorang dukun santet. Biar majikannya lebih punya kasih sayang terhadap pekerjanya.

Kemudian teman saya yang lain juga tidak kalah usahanya dalam menaklukan bos-nya. Ia sedang minta informasi pada teman-temannya yang kerja di bangunan luntuk mencarikan telur ayam kampung yang masih segar. Ia akan menuliskan di seluruh bulatan telur itu dengan tulisan arab gundul, alias tanpa kharakat. Intinya sama, agar si majikan jangan terus menerus berwatak seperti singa kelaparan.

Saya pun juga ikut berusaha. Siapa sih yang mau punya majikan galak? Apalagi jauh-jauh dari Indonesia, bekerja di Brunei, tentunya ingin punya seorang majikan yang punya kasih sayang yang mendalam. Seperti kasih seorang ibu kepada anaknya. Seperti kasih Allah kepada mahluknya. Seperti kasih seekor induk ayam, yang akan terus melindungi anak-anaknya manakala diserang bahaya.

Akhirnya, saya menelpon guru ngaji saya di kampung. Seorang kyai muda yang pernah 'ngangsu kawruh', menimba ilmu, di pesantren Tegalrejo, Magelang. Saya minta agar diberikan jalan keluar, atas ketidakmanusiawian sang majikan. Dengan semangat, beliau memberikan nasehat syahdunya kepada saya. Seperti ketika saya masih belajar padanya.

"Kedzaliman jangan dilawan dengan kedzaliman. Kekerasan jangan kau lawan dengan kekerasan pula. Jadilah umat Rasulullah, yang berusaha belajar untuk mengikuti tingkah laku Nabi. Jangan mengaku jadi umat Muhammad SAW, tapi tingkah lakunya seperti Fir 'aun. Coba buka kembali sirah Nabi. Bagaimana ketika Nabi diludahi oleh salah seorang Arab dusun? Apa yang diperbuat nabi ketika ia dilempari batu di Thaif? Kau jangan ikut cara-cara temanmu. Kamu muslim. Punya cara sendiri untuk menghadapi kehidupan ini. Doakanlah agar majikanmu jadi orang baik-baik. Jika ia marah, lawanlah dengan istighfar. Jika memaki, mencaci, lawanlah dengan tasbih, tahmid atau takbir. Biar kau dapat investasi pahala. Biar kau berlindung di bawah naungan-Nya yang begitu perkasa,"

Itu pesan guru ngaji saya. Waktu terus berjalan. Teman-teman saya 'istiqomah' dengan cara mereka masing-masing. Sayapun berusaha konsisten dengan cara yang diberikan guru ngaji saya. Dengan parameter keislaman tentunya.

Sampai pada suatu waktu ada kejadian yang sungguh di luar jangkauan pemikiran saya dan teman-teman. Dan juga tidak pernah terbayang dalam otak kami yang dangkal ini. Serombongan polisi berseragam datang ke rumah majikan kami. Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menangkap si majikan dan dibawa ke mobil polisi. Kami dan seisi rumah bertanya-tanya. Ada apa dengan majikan saya?

Sungguh, ini sebuah kejadian luar biasa. Sampai pada ahirnya ia mendekam di penjara pemerintah. Informasi yang saya terima, ia ikut terlibat dengan suatu kelompok, yang dilarang penguasa negara tempat kami kerja. Sebuah kelompok sesat yang pernah punya anggota cukup fantastis di Malaysia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Saya dan teman-teman hanya bisa saling berpandangan. Tak dapat bicara sepatah kata apapun. Hanya bergumam, bahwa apa yang berlaku di dunia ini, sangat sering tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran manusia. Dan ini tentunya sebuah pelajaran bagi kami, bahwa tak selamanya, seorang manusia akan gagah perkasa di depan manusia lainnya. Tak selamanya seseorang akan bisa berbuat kedzaliman di hadapan mahluk-Nya.

Entah karena apa hal ini terjadi dan menimpa majikan laki-laki kami. Yang jelas ini adalah kehendak Penguasa Alam. Dan sudah barang tentu sudah tercatat di dalam buku agung-Nya di Lauhil Makhfudz. Ini yang perlu kita yakini, perlu kita imani. Bukan semata-mata usaha dari kawan-kawan saya, apalagi doa saya yang kapasitas 'kemakbulannya' yang masih harus dipertanyakan.

Dengan kekuatan seorang perempuan, akhirnya istri majikan saya mengambil alih jadi pengelola perusahaan. Menejemen sekarang jauh berbeda dengan ketika di pegang majikan laki-laki. Rupanya selama ditinggal 'nyantri' di penjara oleh suaminya, perempuan ini sedikit menerapakan manajemen 'barokah'. Artinya ia percaya betul dengan apa yang kami kerjakan. Tidak seperti ketika suaminya mengendalikan usahanya. Yang kebanyakan memakai bentuk menejemen seenake udele dhewek, semaunya sendiri. Sehingga dengan izin-Nya tentu saja, usahanya berjalan lancar dan baik. Mesin-mesin pun jarang rusak. Sekali-kali rusak pun mudah diatasi. Gaji lancar. Utang para konsumen juga terbayar walaupun sedikit lambat. Istri sang majikan rupanya menyadari ini semua. Sekarang jarang sekali marah-marah terhadap pekerjanya.

Dengan demikian kami bekerja dengan tenang. Tidak ada bayangan ketakutan, jika sekali-kali melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Seolah wajah harimau yang pernah menghantui pikiran kami para pekerja nyaris hilang sama sekali. Kami membayangkan, seandainya keadaan seperti ini berjalan selamanya, tentu akan sangat indah. Akan ada jalinan amat mesra antara seorang majikan dengan pekerjanya. Sehingga segalanya akan menjadi berkah yang bertumpuk-tumpuk. Sebab tidak ada kecurigaan majikan kepada pekerjanya. Sebaliknya tak akan ada umpatan di belakang dari para pekerja kapada majikannya. Dan mudah-mudahan hal ini bisa terkabul kelak, setelah sang majikan pulang dari 'pesantren'.

Saya jadi ingat kisah masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sebuah pemerintahan yang sangat diidamkan oleh rakyat manapun. Pemerintahan yang dipimpin oleh manusia yang sangat takut pada Yang Maha Gagah Perkasa. Sehingga menurut kisah tersebut, pada jaman kekuasaan khalifah yang sangat zuhud itu, seekor singa yang ganas saja dapat akrab, alias bersahabat dengan seekor kijang. Yang nota bene adalah makanan empuk bagi si singa. Luar biasa.

Mudah-mudahan ini bisa terjadi pada majikan saya yang sedang di panggil Alloh SWt untuk mengikuti 'diklat' kehidupan yang sebenarnya. Ia sedang berlaku sebagai ulat yang jadi kepompong. Sehingga pada masanya nanti akan berubah menjadi seekor kupu-kupu yang amat cantik. Yang terbang kemana-mana tanpa ditakuti oleh siapapun. Apalagi oleh para pekerjanya. Semoga, semoga dan semoga.

***

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Jangan Tertipu oleh Banyakanya Amal

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak amalan sholeh dan menahan diri dari perbuatan dosa. Se...