Manusia dalam
loyalitas dan perlepasan diri terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, orang yang
dicintai dengan kecintaan yang murni dan tidak dicampuri dengan permusuhan,
mereka itulah orang-orang beriman yang ikhlas, yang terdiri dari para nabi,
shiddiqin (orang-orang yang selalu membenarkan), para syuhada' (orang-orang
yang mati dalam peperangan/mati syahid), dan orang-orang yang shalih, yang
berada di barisan paling depan di antara mereka adalah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, maka kecintaan kepada beliau haruslah lebih besar dibanding
dengan kecintaan kepada diri sendiri, anak, orang tua dan seluruh manusia,
kemudian (kecintaan setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) kepada
isteri-isteri beliau Ummahatul Mukminin, Ahli Baitnya (keluarganya) yang baik,
Sahabat-sahabat beliau yang mulia, khususnya para Khulafaur Rasyidin, sepuluh
orang Sahabat (yang dijanjikan bagi mereka jannah), kaum Muhajirin, kaum
Anshar, Ahli Badar, Ahlu Baitur Ridwan (yang ikut Bai'at Ridwan), kemudian
seluruh sahabat, para Tabi'in, dan yang hidup pada masa yang diutamakan oleh
Allah dan para Salaf yang shalih serta imamnya seperti empat orang imam madzhab
(Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad Rahimahullah).
Allah Ta'ala
berfirman: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan
Anshar), mereka berdo'a: Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara
kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami,
sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (Al-Hasyr:
10)
Tidak akan ada
orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan membenci para sahabat dan salaf
yang shalih dari umat ini, hanya orang-orang yang menyeleweng, orang-orang yang
munafik dan musuh-musuh Islam-lah yang membenci mereka. Kepada Allah-lah kita
mohon ampunan.
Kedua, orang
yang dibenci dan dimusuhi secara totalitas tanpa adanya kecintaan dan
perwala'an. Mereka itu adalah orang yang betul-betul ingkar dari kalangan
orang-orang kafir, orang-orang musyrik, orang-orang munafik, dan orang-orang
murtad, serta orang-orang yang tidak mengakui adanya Allah Ta'ala. Dengan
berbagai macam bentuk kelompoknya.
Firman Allah: "Kamu tidak akan
mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling
berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,
sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara
ataupun keluarga mereka". (Al-Mujadilah: 22)
Dan Allah
berfirman tentang pencelaan kepada Bani Israil: "Kamu melihat
kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik).
Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu
kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya
mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan
kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin
menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang
fasik". (Al-Maidah: 80-81)
Ketiga, adalah
orang yang dicintai dari satu segi dan dibenci dari segi lain sehingga terpadu
padanya kecintaan dan permusuhan. Mereka itu adalah orang-orang mukmin yang
durhaka. Mereka dicintai karena adanya keimanan dan dibenci karena adanya
kedurhakaan yang tidak menjadikan mereka kafir dan musyrik.
Kecintaan
terhadap mereka mengharuskan untuk menasehati dan mengingkari mereka, maka
tidak diperbolehkan seseorang diam atas kemaksiatan yang mereka lakukan,
tetapi harus diingkari, diperintah untuk berbuat kebaikan, dilarang untuk
melakukan kemungkaran serta dilaksanakan had-had (hukuman berat) dan
ta'zir-ta'zir (hukuman ringan/peringatan) terhadapnya sampai mereka berhenti
dari kemaksiatan dan bertobat dari dosa-dosa. Akan tetapi mereka tidak boleh
secara mutlak dibenci dan dijauhi, tetapi kita harus bersikap adil dalam
menilai mereka.
Cinta karena
Allah dan benci karena Allah merupakan tali keimanan yang paling kuat, dan
seseorang itu bersama orang yang ia cintai pada hari kiamat, sebagaimana
disebutkan di dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Akan
tetapi, sungguh keadaan telah banyak berubah. Pada umumnya kecintaan dan
kebencian seseorang kepada yang lain semata-mata didasari nilai-nilai keduniaan.
Seseorang yang mempunyai nilai-nilai keduniaan maka ia dicintai walaupun ia
adalah musuh Allah dan Rasul-Nya, sebaliknya seseorang yang tidak memiliki
nilai-nilai keduniaan ia dibenci meskipun ia kekasih Allah dan Rasul-Nya, hanya
karena nilai-nilai yang paling rendah, sempit dan hina.
Abdullah bin
Abbas berkata: "Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena
Allah, ber-wala' karena Allah, ber-baro' karena Allah, maka dengan itulah ia
akan memperoleh perwalian dari Allah. Sungguh nilai-nilai persaudaraan saat ini
pada umum-nya ditegakkan di atas nilai-nilai dunia dan kebendaan yang sungguh
tidak akan mendatangkan manfaat sama sekali bagi siapapun".
Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam: "Sesungguhnya Allah telah berfirman: 'Barangsiapa yang memusuhi
wali-Ku, sungguh Aku umumkan perang terhadapnya’.” (Hadits Riwayat
Al-Bukhari)
Manusia yang
paling keras peperangannya terhadap Allah adalah orang-orang yang memusuhi,
mencela, meremehkan para sahabat Rasulullah. Sungguh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam telah bersabda: "Ya Allah (jagalah)
shahabat-shahabatku, jangan kalian jadikan mereka sebagai musuh, maka
barangsiapa yang menyakiti mereka berarti menyakiti aku dan barangsiapa yang
menyakiti aku berarti ia telah menyakiti Allah dan barangsiapa yang menyakiti
Allah, dikhawatirkan akan disiksa". (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan
yang lain)
Kita berlindung
kepada Allah dari kemurkaan-Nya, dan adzab-Nya yang pedih dan kita memohon
kepada-Nya ampunan dan kesejahteraan-Nya. Wallahu a’lam
Maraji’: Al-Wala' Wa Al-Bara',
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
No comments:
Post a Comment