Tidak ada yang kekal di dunia ini. Setiap ada kelahiran pasti ada kematian,
setiap ada kesenangan pasti ada kesedihan, dan setiap ada perjumpaan pasti
diakhiri dengan perpisahan. Aku sangat meyakini semuanya. Yang tetap tak
kumengerti, mengapa selalu saja air mata ini jatuh di pipiku saat perpisahan itu
datang menjelang.
“Itu manusiawi, Nduk,” kata Bapak memecahkan
keheningan suasana.
Sore ini, keluarga besar kami sedang berkumpul.
Awalnya gelak tawa menghiasi ruang keluarga yang tak seberapa besar ini karena
cerita-cerita masa lalu kami yang penuh dengan keprihatinan, namun terasa
menggelikan.
Ibu duduk di depan mesin jahitnya, seusai menjahit celana
Thariq, putraku. Bapak duduk tepat di belakang Ibu, sambil sesekali melihat
berita di tivi. Aku, adik bungsu kami, adik perempuanku dan suaminya duduk di
karpet, juga di depan tivi. Sedangkan dua jundi kecil sedang tidur pulas di
kamarnya masing-masing. Dan suamiku tak hadir dalam pertemuan keluarga ini
karena sedang melanjutkan studi ke negeri Jiran.
Ya, aku baru datang ke
kota kelahiranku 3 hari yang lalu. Kantor tempat aku bekerja memberikan izin
cuti, untuk menengok ponakanku yang baru berusia sebulan.
Pertemuan-pertemuan seperti ini selalu aku nantikan dalam hidup
sendiriku di perantauan. Setiap kali ada rencana untuk datang ke kampung
halaman, sepertinya semangat hidupku tumbuh kembali. Keingingan untuk segera
menyelesaikan semua tanggung jawab di kantor menjadi prioritas agar rencana itu
tidak sampai gagal hanya gara-gara tidak mendapat ijin dari atasan.
Dan
hari-hari menjelang keberangkatan adalah hari-hari terindah. Namun, ketika saat
itu tiba, rasa malas mulai menjalari urat nadiku, karena perpisahan pasti akan
segera menemuiku.
“Pada dasarnya, orang memang malas dengan perubahan,
Nduk,” lanjut Bapak kemudian. “Yang penting dalam hidup ini adalah bagaimana
cara kita untuk melakukan yang terbaik pada setiap tarikan nafas kita, hingga
tak besar penyesalan yang akan kita jumpai nanti. Seperti yang sedang kau
rasakan saat ini, kami semua juga merasakannya. Saat-saat bahagia saat kita
berjumpa, akan selalu berakhir dengan saat yang menyedihkan karena perpisahan di
antara kita. Itu akan selalu terjadi pada kita, karena dunia ini fana. Tidak ada
satu hal pun yang kekal di dunia ini, tak ada. Makanya, kita harus selalu
berusaha membenahi iman dan ketaqwaan dalam hati kita, agar kelak kita bisa
dikumpulkan dalam surga-Nya. Karena kita hanya akan mendapati pertemuan yang
kekal, insyaallah di akhirat nanti, di surga-Nya. Untuk itu, kita harus
berlomba-lomba mendapatkan surga Allah hingga kita bisa berjumpa dalam
ridho-Nya, tanpa akan menemui perpisahan lagi. Bukankah Allah SWT telah
berfirman dalam Surat Al Kahfi ayat 107 dan 108: Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga firdaus menjadi tempat
tinggal. Mereka kekal didalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.”
Kami semua menunduk dengan mata berkaca-kaca. Ya, Pak... insyaAllah,
kita akan berusaha untuk selalu berbenah diri, untuk meraih ridho Allah.
Ummu Thariq
No comments:
Post a Comment