Menjadi suami. Hal
yang dahulu begitu kuimpikan. Entahlah rasa apa yang sedang menggelegak dalam
jiwa. Namun kerinduan untuk segera bertemu dengan pasangan jiwaku seolah sudah
melebihi kadar kemampuan seorang lajang untuk bertahan. Dan kini aku hadir
sebagai seorang suami, impian yang mewujud, ya aku kini bersanding dengan
seorang bidadari.
Kemudian kini hidupku sedang penuh diliputi
kejutan-kejutan. Kehidupan yang semula kupahami (seolah) sebagai kebebasan
tanpa batas, kini harus benar-benar menyadari, ada hati yang harus dijaga, ada
benih cinta yang harus senantiasa disemai, dipupuk dan dijaga pertumbuhannya di
ladang jiwa.
Hadir sebagai seorang suami, menuntut diri untuk senantiasa
menghadirkan dan membaluri pasangan kita dengan kebahagiaan, karena kebahagiaan
terbesar seorang suami barangkali bukan sekedar terpenuhinya langit-langit
harapan, namun melihat senyum manis bidadari kita terukir di wajahnya senatiasa
adalah penghapus segala lara.
Di sinilah uniknya, cinta dan keinginan untuk memborong
kebahagiaan untuknya terkadang menjadi semacam pintu untuk menyakitinya. Ironi.
Barangkali bisa dibilang begitu, tapi
bukankah memang itu hal wajar yang terjadi sebagai efek relasi dua orang insan
berbeda yang belum pernah mengenal sebelumnya, dua presepsi tentang bahagia yang
belum bersua.
Ya, kami hadir dalam keragaman, banyak warna, menyulamnya
dengan benang cinta. Dan saat ini diperlukan tingkat kedewasaan yang begitu
rupa untuk menahan diri menuntut pasangan kita seperti yang kita inginkan.
Karena betapa pun ia tetap adalah dirinya, apa yang lebih menyakitkan dari
keterpaksaan untuk menjadi orang lain bukan.
Ini hanya masalah waktu, aku menyakininya. Dan tidak
diperlukan rumusan-rumusan sikap, aku kini ingin mengalir, sebisa yang kubisa,
aku akan selalu ingin membuatnya tersenyum, biarlah hanya Tuhan yang Tahu
betapa aku begitu mencintainya, karena mencintai adalah bentuk ibadahku
kepada-Nya. Dan aku bukan pedagang kelontong yang selalu memaknai setiap
memberi harus menerima, hidup terlalu sempit untuk selalu dimaknai sebagai
transaksi rugi - laba.
Apakah mencintai dan berusaha menjadi baik, modal yang
cukup untuk menjadi suami. Biarkan
realitas yang menjawabnya, satu tekadku: mencintainya hingga ujung waktuku,
cukup bagiku.
Karya : M. Eko Awan Sabila
"Terima kasih, telah menemaniku"
No comments:
Post a Comment