|
Suatu hari,
saya akan menuju suatu tempat. Saya harus memilih kira-kira jalur mana yang akan
saya lewati dan alat transportasi apa yang akan saya gunakan. Apakah saya akan
naik angkutan umum? Yang lewat tol atau jalur lambat? Atau naik kereta yang
cepat namun dapat dipastikan terhimpit? Atau apa?
Dengan menggunakan pengetahuan yang saya miliki tentang kondisi jalanan di Jakarta, saya memilih naik angkutan umum patas AC yang jalurnya lewat tol (supaya tidak terlalu berdesak-desakan dan lebih cepat). Namun ternyata saya salah. Apa yang saya prediksikan bertolak belakang dari kenyataan. Tol macet total, penumpang penuh dan saya akhirnya harus berdiri dan tiba di tujuan sangat telat. Kesal, sebal, bete dan akhirnya menangis. Padahal saya sudah memilih dengan pemahaman medan terbaik, bukan tanpa pengetahuan. Padahal saya sudah memilih dengan menggunakan parameter-parameter islami. Tapi kok? |
22 Nov 2013
Maka Pilihlah, Kemudian Bertakwalah
20 Nov 2013
Perbedaan Angan-angan dan Harapan
Ketika seseorang mengharapkan sesuatu, dia harus mengetahui bahwa harapannya itu
akan berkonsekuensi pada tiga hal:
- Mencintai apa yang ia harapkan.
- Ia merasa khawatir tidak mendapatkan apa yang ia harapkan.
- Ia berusaha untuk mendapatkan apa yang diharapkan dengan segala kemampuannya.
Harapan
yang tidak disertai satupun dari tiga hal di atas maka itu hanya angan-angan
belaka. Harapan dan angan-angan adalah dua perkara yang berbeda. Setiap orang
yang mengharapkan sesuatu maka pada dirinya akan muncul perasaan takut
kehilangan apa yang ia harapkan, akan berusaha menempuh jalan untuk mendapatkan
apa yang ia harapkan. Bila takut kehilangan apa yang ia harapkan maka ia akan
segera berupaya agar tidak terluputkan dari apa yang ia harapkan.
Dalam Jami’
At-Tirmidzi disebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata:
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa khawatir disergap musuh di waktu sahur, dia akan menghindarkan diri
sejak awal malam. Barangsiapa yang berusaha menyelamatkan dirinya sejak awal, ia
akan sampai kepada tempat tinggalnya. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan
Allah itu mahal. Ketahuilah, barang dagangan Allah itu adalah
surga.” Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberi harapan kepada
orang-orang yang mengerjakan amal shalih, demikian pula Ia memberi rasa takut
kepada mereka. Maka ketahuilah bahwa harapan dan rasa takut yang bermanfaat
adalah yang disertai amal shalih. Allah berfirman:
AGAMA ITU NASEHAT
Menjadi dambaan bersama tercapainya kebahagiaan dunia
dan akhirat, hidup berdampingan saling mencintai dalam lingkungan ukhuwah
Islamiyah yang diikat dengan kesatuan aqidah, kesatuan bendera, dan kesatuan
manhaj dalam mengarungi bahtera kehidupan. Namun, tentulah hal itu tidak mudah
untuk direalisasikan manakala masing-masing individu kita sudah hilang
kepeduliannya terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, sementara Islam
datang sebagai agama nasehat yang bila saja setiap individu muslim melaksanakan
apa yang terkandung dari makna-makna nasehat itu tentulah akan terwujud apa yang
menjadi dambaannya.
Lebih dari itu, nasehat adalah merupakan sunnah-sunnahnya
para rosul. Berkata Nuh 'alaihis salam kepada kaumnya, "Aku sampaikan kepadamu
amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari
Allah apa yang kamu tidak ketahui." (QS Al A'raaf: 62). Hud berkata kepada
kaumnya, "Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah
pemberi nasehat yang terpercaya bagimu." (QS Al A'raaf: 68). Sholeh berkata
kepada kaumnya, "Aku telah menyampaikan amanat Tuhanku dan aku telah memberi
nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat."
(QS Al A'raaf: 79). Syu'aib berkata kepada kaumnya, "Aku telah menyampaikan
kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka
bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?" (QS Al
A'raaf: 93).
19 Nov 2013
JANGAN PERCAYA KEPADA PERAMAL
Rasululloh Shallallahu'alaihi
wasallam bersabda :
“Barangsiapa
bertanya kepada peramal atau ahli nujum, kemudian ia percaya apa yang dikatakannya, berarti ia telah
mengingkari apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (Hadits
shahih riwayat Ahmad).
Haram hukumnya mempercayai ahli nujum,
dukun, peramal, tukang sihir, orang yang mengaku mengetahui jiwa orang atau
peristiwa-peristiwa yang lalu yang tidak diketahui orang atau mengetahui apa
yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebab hal-hal tersebut adalah khusus ilmu Allah saja. Allah berfirman :
“Dan Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam hati.” (Al-Hadid : 6).
“Katakanlah: tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali
Allah.” (An-Naml :
65).
Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam bersabda
:
“Barangsiapa mendatangi seorang peramal dan menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima baginya shalat selama empat puluh hari.” (riwayat Muslim).
Apa yang dikatakan oleh para peramal itu sebenarnya hanyalah dugaan dan kebetulan saja. Umumnya tidak lebih dari dusta Karena bisikan setan dan tidak ada orang yang terbujuk kecuali orang yang kurang akalnya saja. Andaikata mereka mengetahui hal-hal yang ghaib, niscaya mereka akan mengambil harta yang tersimpan dalam perut bumi ini sehingga mereka tidak lagi menjadi orang fakir yang kerjanya mengelabui orang lain hanya mencari
sesuap nasi dengan cara yang batil. Kalau mereka benar-benar mengetahui hal-hal yang ghaib, maka beritahulah kami apa rahasia-rahasia yahudi sehingga dapat ditumbangkan.
ISLAM MENGANGKAT DERAJAT WANITA
Islam
memuliakan derajat wanita dengan jalan menjadikan mereka sebagai pendidik
generasi mendatang dan menggantungkan baik atau buruknya umat kepadanya. Islam
mewajibkan wanita menutup aurat untuk menyelamatkan mereka dari tangan-tangan
jahil dan menghindarkan masyarakat dari ekses-ekses negatif. Perlu ditambahkan
bahwa yang demikian itu menciptakan rasa kasih sayang antara suami isteri.
Sebab laki-laki yang melihat perempuan yang lebih cantik daripada isterinya
dapat menimbulkan gangguan yang bisa berakibat perceraian.
Allah Subhanahu wata'ala berfirman: “Hai
Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri
orang mukmin agar mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian
itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Al-Azab :59).
17 Nov 2013
6 Sept 2013
Sabarnya Ayub As, Sabarnya Sulaiman As, Sabarnya Yusuf As, Dan Sabarnya Musa As
Ini
bukan untuk membandingkan tingkat kesabaran diantara tiap nabi tersebut, tapi
sebuah ilustrasi yang memudahkan kita untuk memahami jenis-jenis kesabaran.
Sabar ujian kesusahan Nabi Ayub as
Sungguh
Ayub as seorang yang sangat sabar melawan godaan kesusahan yang berniat
mematahkan keteguhan imannya? Allah telah mengujinya dengan berbagai
penderitaan sakit fisik luar dan dalam yang sangat dahsyat dan menjijikkan, dan
itu terjadi hampir sepanjang usianya.
Sabar ujian kesenangan Nabi Sulaiman as
Sabar ujian kesenangan Nabi Sulaiman as
Sanggupkah
kita sesabar Sulaiman as ketika ia melawan godaan kesenangan dunia yang ingin
menutup hatinya? Bukankah kesenangan lebih mudah membuat kita melupakan Sang
Pencipta Kesenangan ? Sungguh Sulaiman as tetap tegar dalam keimanan, walau
Allah mengujinya dengan kerajaan yang besar, pasukan yang besar, kekayaan yang
melimpah, istri yang cantik dan sebagainya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Featured Post
Jangan Tertipu oleh Banyakanya Amal
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak amalan sholeh dan menahan diri dari perbuatan dosa. Se...
-
Suara anda sangat mempengaruhi nasib dan kemajuan Kabupaten Seluma 5 tahun mendatang,. Mahasiswa yang di Bengkulu, jangan lewatkan untuk iku...
-
Ucun Ngulang Miang dimano be kito kuliah asak jemo seluma itu samo bae,ndo gango bedao kawan2.aq yakin ...