Suatu hari,
saya akan menuju suatu tempat. Saya harus memilih kira-kira jalur mana yang akan
saya lewati dan alat transportasi apa yang akan saya gunakan. Apakah saya akan
naik angkutan umum? Yang lewat tol atau jalur lambat? Atau naik kereta yang
cepat namun dapat dipastikan terhimpit? Atau apa?
Dengan menggunakan
pengetahuan yang saya miliki tentang kondisi jalanan di Jakarta, saya memilih
naik angkutan umum patas AC yang jalurnya lewat tol (supaya tidak terlalu
berdesak-desakan dan lebih cepat).
Namun ternyata saya salah. Apa yang
saya prediksikan bertolak belakang dari kenyataan. Tol macet total, penumpang
penuh dan saya akhirnya harus berdiri dan tiba di tujuan sangat telat. Kesal,
sebal, bete dan akhirnya menangis. Padahal saya sudah memilih dengan pemahaman
medan terbaik, bukan tanpa pengetahuan. Padahal saya sudah memilih dengan
menggunakan parameter-parameter islami. Tapi kok?
Tapi akhirnya saya
menyadari, bahwa pilihan saya memang salah. Salah dalam arti prediksi saya tidak
tepat, bukan SALAH dalam arti lawannya BENAR. Persepsi saya semula yang saya
pikir akan memberikan prediksi yang mendekati benar karena berlandaskan
pengetahuan yang cukup, ternyata masih kurang. Hal ini membuat saya makin sadar,
bahwa pengetahuan saya sangat sedikit. Membuat saya makin tahu, begitu banyak
yang di luar control dan kemampuan manusia.
Namun toh, setidaknya saya
telah mengambil pilihan dan menjalaninya dengan sadar. Kalau ternyata hasil dari
pilihan itu tidak seperti yang saya harapkan saat mengambil keputusan, itu
adalah konsekuensi yang harus saya terima. Tak perlu menyesal apalagi merutuki
diri dan orang lain. Bukan tidak mungkin, ada sesuatu yang tidak saya tahu,
menjadi hikmah dari kejadian di luar kontrol itu tadi.
***
Satu fragmen di atas hanyalah contoh kecil dan remeh temeh, yang
menunjukkan bahwa semua hal dalam hidup ini adalah pilihan. Hal-hal kecil
seperti baju dan makanan pun kita memilih. Sekolah, cita-cita, aktivitas,
kehidupan beragama, jodoh dan sikap hidup, juga pilihan Kita melakukannya dengan
sadar atau tidak. Dengan pemahaman atau tidak. Secara reflek atau dipikir-pikir
dulu. Kita pilih sendiri atau dipilihkan oleh orang lain untuk kita. Semua
adalah PILIHAN.
Dan setiap pilihan akan membawa pada arah yang berbeda,
hasil yang berbeda, serta konsekuensi berbeda pula. Ada konsekuensi dan hasil
yang merupakan akibat logis dari pilihan itu dan sebelumnya sudah kita
prediksikan. Ada yang merupakan akibat dan hasil yang di luar control kita, dan
tak kita duga sebelumnya. Tak masalah. Karena bukan itu poinnya. Bukan HASIL
dari pilihan itu yang terpenting. Namun bagaimana proses kita memilih: landasan
apa yang kita gunakan sebagai dalil, pengetahuan dan pemahaman terhadap
permasalahan dan kesadaran atas segala resiko dari setiap pilihan.
Maka
apakah engkau akan lebih suka untuk tidak memilih? Toh, pada akhirnya, saat kau
hanya menjalani suatu kehidupan secara mengalir saja atau menunggu dipilih atau
dipilihkan oleh orang lain kau tetap akan harus menjalani satu pilihan. Jika
demikian, lebih baik engkau memilih dan memutuskan dengan sadar, dengan segenap
ilmu dan pemahaman yang telah kau miliki. Bahkan sekalipun ternyata pilihan itu
salah. Setidaknya kita sudah pernah memilih.
Bahwa kemudian kenyataan
tidak sesuai dengan apa yang diharapkan di awal pada saat menjatuhkan pilihan,
itu tidak masalah karena hidup memang demikian. Allah Tahu dan Maha Tahu, sedang
pengetahuan manusia sangat terbatas. Mengambil dan menjalani setiap pilihan akan
membuat kita menyadari begitu banyak keterbatasan pengetahuan, pengertian dan
pemahaman kita. Jika ternyata pilihan itu salah, setidaknya engkau akan mengerti
dan menjadi lebih dewasa karenanya. Engkau bisa memilih yang lain lagi. Memilih
yang lebih baik lagi. Dan belajar dari pilihan sebelumnya.
Karena itu,
mulai bangun keberanian untuk memilih, sekarang juga. Memilih berdasarkan
pemahaman dan pengetahuan maksimal yang kita miliki. Bermusyawarah dan meminta
masukan dari orang-orang yang fakih, jika bisa dilakukan. Kemudian, minta
ketetapan kepada Dia Yang Maha Tahu Yang Terbaik Untuk Kita melalui shalat
istikharah, sebagai bentuk pengakuan akan betapa banyak yang kita tidak tahu dan
tidak mampu kontrol hal-hal di luar kita. Sesudahnya, pasrah dan tawakkal!
Apapun hasilnya, tidak menjadi masalah, karena kita sudah memilih. Hanya
orang yang berani memilihlah yang layak untuk mendapat penghargaan. Seberapa pun
berat sebuah pilihan, ia tetap layak diacungi jempol. Dan hanya satu kata yang
pantas untuk seorang yang tak berani memilih: PECUNDANG!
|
No comments:
Post a Comment