6 Jan 2014

Sudah Sedemikian Keraskah Hati Ini?


Di dalam perjalanan menuju kantor, saya terlelap menikmati sejuknya udara dalam bis. Tak terasa hingga kondektur bis membangunkanku untuk menagih ongkos, dengan mataku yang masih merejap kuulurkan sejumlah uang untuk membayar ongkos bis. Dan … samar mataku menangkap sosok seorang ibu setengah baya berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Tapi, rasa kantuk dan lelah ku mengalahkan niat baik untuk memberikan tempat duduk untuk ibu tersebut. 

Turun dari bis, baru lah sisi baik hati ini bergumam, “Andai saya berikan tempat duduk kepada ibu tadi, mungkin pagi hari ini keberkahan bisa kuraih”. “Siapa tahu ridha Allah untuk ku di hari ini dari doa dan terima kasih ibu itu jika saja kuberikan tempat dudukku…” Ah, kenapa baru kemudian diri ini menyesal? 

Semalam dalam perjalanan pulang dengan kereta api, duduk di hadapan saya seorang bapak berusia 40-an. Lewat seorang penjual air minum kemasan, dan ia segera menyetopnya untuk membeli. Tangan kirinya memegang segelas air minum kemasan sementara tangan satunya merogoh-rogoh kantongnya. Sesaat ia memperhatikan beberapa keping yang ia mampu raih dari bagian terdalam kantongnya, ternyata … ia mengembalikan segelas air minum kemasan yang sudah digenggamnya kepada penjual air sambil menahan rasa hausnya. 

4 Jan 2014

Andai Surga Dan Neraka Tidak Ada


KotaSantri.com - Aku masih duduk di sajadahku ketika orang-orang telah meninggalkan masjid ini, pun ketika beberapa lampu mulai dimatikan. Ku tatap beberapa ayat Al-Qur'an yang tertulis rapi menghias ruang dalam masjid. Ada getaran halus dihatiku yang entah darimana asalnya tiap kali aku menatap lingkaran kecil di dinding yang bertuliskan 'Allah'. Aku duduk bersimpuh, kutatap nama-Nya dan aku mulai merenungi diriku.

Tentang apa yang kuperbuat, apa yang kukatakan, tentang apa yang kupikirkan, dan tentang apa yang kurasakan. Tak dapat lagi kutahan derai air mata yang mulai merembes dipipiku, aku sendiri bingung kenapa?? Yang kutahu saat ini aku hanya ingin menangis, menangis dan terus menangis. 

Aku mulai merasakan betapa hinanya aku di hadapanNya, aku yang masih memiliki berjuta kesombongan, yang masih riya' di hadapan manusia, yang masih mendustakan nikmatNya dan entah apa lagi yang kupikirkan. Aku benar-benar hina dihadapanNya. 

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku kemari? Mengapa aku bersujud padaNya? Mengapa aku meninggalkan laranganNya? Dan mengapa aku berusaha untuk melakukan perintahNya? Adakah karena aku mencintai Nya? Atau karena yang lainnya??? 

27 Dec 2013

Mengubah Perbedaan Menjadi Kekuatan


PERBEDAAN adalah sunatullah. Di manapun dan kapanpun, perbedaan pasti akan selalu ada. Kita tidak bisa menuntut semuanya sama. Allah SWT berfirman, "Hai manusia, sesungguhnya Kami Menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS. Al-Hujuraat: 13).

Dari ayat tersebut kita bisa paham, bahwa Allah SWT membuat perbedaan tidak untuk dijadikan alat perpecahan. Perbedaan adalah rahmat dan sumber kekuatan, selama kita bisa menyikapinya dengan benar dan mendudukannya secara proporsional.

Lihatlah sebuah bangunan, ia begitu kokoh dan indah. Salah satu sebabnya karena bangun tersebut tersusun atas bahan-bahan yang berbeda. Satu bahan dengan bahan lainnya saling menguatkan. Ada batu yang keras, ada kerikil yang kecil dan tajam, ada beton yang kokoh, ada semen, dan ada pula air yang lembut tapi mempersatukan. Alangkah indah kebersamaan dalam perbedaan.

Mengekang Hawa Nafsu

''Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, niscaya ia akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.'' (QS Shaad [38]: 26).

Ayat di atas mengandung perintah kepada kita untuk mengekang hawa nafsu. Allah SWT menyuruh agar kita senantiasa mengikuti perintah-Nya dan jangan mengikuti perintah hawa nafsu yang akan merugikan dan menghancurkan kehidupan kita.

Hawa nafsu mengandung pengertian kecenderungan hati kepada hal-hal yang disukai dan dicintai yang tidak ada kaitannya dengan urusan akhirat, seperti perkara yang melalaikan, menggiurkan, melenakan, takabur, riya, sombong, kemaruk pangkat dan kekuasaan, cinta dunia, suka berkata kasar, makan berlebihan, mengumbar syahwat, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Lawannya, mengekang hawa nafsu, berarti menjauhi perintahnya yang keji dan jahat. Sebab, secara alamiah nafsu memang memiliki sifat senantiasa menyuruh manusia untuk melakukan perbuatan keji dan jahat. Firman Allah, ''Sesungguhnya nafsu itu menyuruh kepada kejahatan.'' (QS Yusuf [12]: 53).

22 Dec 2013

Asyura' Dalam Perspektif Islam, Syi'ah

Asyuro' dalam ajaran Islam

Ulama Ahlussunnah sepakat bahwa pada hari 10 Muharram disyari'atkan untuk berpuasa. Ibnu Abbas menceritakan :

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura' ( tanggal 10 Muharram), maka beliau bertanya: "Hari apakah ini?" Mereka menjawab: "Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada hari itu karena syukur kepada Allah. Dan kami berpuasa pada hari itu untuk mengagungkannya." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian", maka Nabi berpuasa Asyura' dan memerintah-kan puasanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Harus Menyalahi Ahli Kitab

Para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Ya Rasulullah, sesungguhnya Asyura' itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan." (HR. Muslim (1134) dari Ibnu Abbas).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur lain, sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :

"Berpuasalah pada hari Asyura' dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya." (Fathul Bari, 4/245). Imam Syafi'i juga meriwayatkan hadits di atas, makanya beliau di dalam kitab Al-Um dan Al-Imla' menyatakan kesunnahan puasa tiga kali tanggal 8, 9 dan 10 Muharram. (Al-Ibda', Ali Mahfudz hal. 149, Fathul Bari 4/246).

Keutamaan Asyura'

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura', maka beliau menjawab: "Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu." (HR. Muslim (1162), Ahmad 5/296, 297).

Karena itu, pantas jika Ibnu Abbas menyatakan : "Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaannya selain hari ini (Asyura') dan tidak pada suatu bulan selain bulan ini (maksudnya: Ramadhan)." (HR. Al-Bukhari (2006), Muslim (1132)).

Featured Post

Jangan Tertipu oleh Banyakanya Amal

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak amalan sholeh dan menahan diri dari perbuatan dosa. Se...