6 Sept 2013

Sabarnya Ayub As, Sabarnya Sulaiman As, Sabarnya Yusuf As, Dan Sabarnya Musa As



Ini bukan untuk membandingkan tingkat kesabaran diantara tiap nabi tersebut, tapi sebuah ilustrasi yang memudahkan kita untuk memahami jenis-jenis kesabaran.

Sabar ujian kesusahan Nabi Ayub as
Sungguh Ayub as seorang yang sangat sabar melawan godaan kesusahan yang berniat mematahkan keteguhan imannya? Allah telah mengujinya dengan berbagai penderitaan sakit fisik luar dan dalam yang sangat dahsyat dan menjijikkan, dan itu terjadi hampir sepanjang usianya.

Sabar ujian kesenangan Nabi Sulaiman as
Sanggupkah kita sesabar Sulaiman as ketika ia melawan godaan kesenangan dunia yang ingin menutup hatinya? Bukankah kesenangan lebih mudah membuat kita melupakan Sang Pencipta Kesenangan ? Sungguh Sulaiman as tetap tegar dalam keimanan, walau Allah mengujinya dengan kerajaan yang besar, pasukan yang besar, kekayaan yang melimpah, istri yang cantik dan sebagainya.

Mangkuk Yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut



Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar ra., Umar ra., Utsman ra., dan ‘Ali ra., bertamu ke rumah Ali ra. Di rumah Ali ra. istrinya Sayidatina Fathimah ra. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abu bakar ra. berkata, “Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Umar ra. berkata, “Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Utsman ra. berkata, “Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

3 Sept 2013

Tiga Belas Penawar Racun Kemaksiatan


1. Anggaplah besar dosamu

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu berkata, ''Orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung  tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa)  dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya.''


2. Janganlah meremehkan dosa

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ''Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh suatu dosa, maka itu akan
membinasakannya.'' (HR. Ahmad dengan sanad yang hasan)



3. Janganlah mujaharah (menceritakan dosa)

Ibnu Khaldun, Ilmuwan Bergelar Aneka ‘Bapak‘

Bagi pecinta ilmu, nama Ibnu Khaldun hampir bisa dipastikan sebagai salah satu yang dikenalnya dengan baik. Sebab, sebagaimana Ibnu Sina, Ibnu Khaldun menguasai berbagai macam ilmu dan menuliskannya dengan baik sehingga karya-karyanya masih bisa dinikmati hingga kini. 

Terus Melegenda

Ibnu Khaldun bernama lengkap Abdurrahman Ibnu Khaldun Al-Magribi Al-Hadrami Al-Maliki. Lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H (27/5/1332 M). Tunisia ketika itu merupakan pusat ulama dan sastrawan besar. Ibnu Khaldun tumbuh-kembang di wilayah yang -kala itu- dilanda persaingan dan persekongkolan antarkelompok politik. Namun, situasi tak kondusif itu tak menyurutkan semangatnya untuk tekun menuntut ilmu di berbagai bidang.

Featured Post

Jangan Tertipu oleh Banyakanya Amal

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak amalan sholeh dan menahan diri dari perbuatan dosa. Se...