10 Dec 2013

Baghdad, Kota Dengan Sejarah Panjang


Baghdad mempunyai sejarah yang panjang dalam Islam. Baghdad diberi julukan sebagai Madinatus Salam atau kota perdamaian dan dijadikan sebagai ibukota kekhalifahan Islam Bani Abbasiyah. Adalah Harun Al Rasyid yang berhasil membawa Baghdad menjadi kota yang makmur. Beliau membawa Baghdad mengalami masa keemasan sebagai pusat kebudayaan dan perdagangan dunia Islam. Begitu pula ketika khalifah dipegang oleh Al Ma'mun, seni literatur, teologi, filosofi, matematika, dan ilmu pengetahuan lainnya mengalami masa kejayaan di kota Baghdad. Perlu dicatat bahwa Al Khwarizmi peletak dasar aljabar dalam matematika berasal dari Baghdad. Baghdad pun menjadi pusat ilmu pengetahuan dalam dunia Islam.

Pada sekitar abad ke tujuh Hijriyah, terjadilah invasi besar-besaran dari bangsa Mongol. Kita tahu bahwa Mongol dengan pemimpinnya Genghis Khan akhirnya berhasil menguasai hampir sebagian besar Asia dan Eropa. Tidak terkecuali juga kekhalifahan Islam. Baghdad sebagai kota terbesar dan pusat dunia Islam menjadi target invasi pertama bangsa Mongol. Diutuslah Hulagu Khan, cucu dari Genghis Khan untuk menginvasi Baghdad. Khalifah di Baghdad waktu itu adalah Al Musta'sim, yang sudah siap untuk melawan bangsa Mongol demi mempertahankan kota Baghdad.

Akan tetapi penasihat khalifah memberikan saran agar mengadakan perjanjian damai dengan Mongol, sebenarnya penasihat khalifah tersebut berkonspirasi dengan Mongol agar ia bisa dijadikan khalifah selanjutnya. Untuk menghindari jatuh korban, Al Musta'sim menyetujui dan menemui Hulagu di luar kota Baghdad.

9 Dec 2013

Pahlawan Neraka

Suatu hari satu pertempuran telah berlaku di antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua-dua belah pihak berjuang dengan hebat untuk mengalahkan antara satu sama lain. Tiba saat pertempuran itu diberhentikan seketika dan kedua-dua pihak pulang ke markas masing-masing.

Di sana Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah berlaku itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di ruang mata. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka iaitu, Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar membaham mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah mulut ketika itu.

"Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman," kata salah seorang sahabat. 
Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, "Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka."Para sahabat menjadi heran mendengar jawapan Rasulullah itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam boleh masuk dalam neraka. 

Kala Menghadap Rabb-ku, Siapkah Aku ?

Hari sudah menunjukkan pukul 24.00 WIB, ada yang masih harus kukerjakan sebetulnya, namun karena besok pagi aku harus mengajar, akhirnya dengan berat hati, aku shut down juga GTC Mileniaku. 

Aku langsung tidur ternyata tidak, aku harus mempersiapkan bahan mengajar besok pagi. Kubuka Basic Financial Managemen-nya Athur Keown, lambat kubaca mengenai bond and stock. Awal-awalnya mataku masih bisa diajak kompromi, tapi karena keletihan bergumul dengan waktu dari pagi hingga sore hari kemaren, pertahanan fisikkupun roboh.

Kulirik jam tua yang bergantung di dinding, ah sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, aku letih sekali, aku tidak bisa meneruskan bacaanku, sebaiknya aku tidur… Namun perang batin mulia berkobar dalam hati dan kantukku, hati yang satu mengatakan, “Jangan tidur dulu, kamu belum memahami betul materi besok pagi, apa yang akan kamu ajarkan besok, bagaimana kalau mahasiswa bertanya, apakah kamu siap menjawabnya, mengajar adalah amanah dari Allah loh”.

8 Dec 2013

Perpisahan itu Akan Selalu Ada


Tidak ada yang kekal di dunia ini. Setiap ada kelahiran pasti ada kematian, setiap ada kesenangan pasti ada kesedihan, dan setiap ada perjumpaan pasti diakhiri dengan perpisahan. Aku sangat meyakini semuanya. Yang tetap tak kumengerti, mengapa selalu saja air mata ini jatuh di pipiku saat perpisahan itu datang menjelang. 

“Itu manusiawi, Nduk,” kata Bapak memecahkan keheningan suasana. 

Sore ini, keluarga besar kami sedang berkumpul. Awalnya gelak tawa menghiasi ruang keluarga yang tak seberapa besar ini karena cerita-cerita masa lalu kami yang penuh dengan keprihatinan, namun terasa menggelikan. 

Ibu duduk di depan mesin jahitnya, seusai menjahit celana Thariq, putraku. Bapak duduk tepat di belakang Ibu, sambil sesekali melihat berita di tivi. Aku, adik bungsu kami, adik perempuanku dan suaminya duduk di karpet, juga di depan tivi. Sedangkan dua jundi kecil sedang tidur pulas di kamarnya masing-masing. Dan suamiku tak hadir dalam pertemuan keluarga ini karena sedang melanjutkan studi ke negeri Jiran. 

Ya, aku baru datang ke kota kelahiranku 3 hari yang lalu. Kantor tempat aku bekerja memberikan izin cuti, untuk menengok ponakanku yang baru berusia sebulan. 

Harga Mahal Sebuah Hidayah

Dalam ruangan yang serba gelap, untuk membedakan mana tongkat dan mana ular, setidaknya diperlukan dua hal; kemampuan mata dan cahaya dari luar. Mata bisa melihat, tetapi bila tak ada cahaya tentu tidak akan jelas bentuk benda-benda di sekitar. Begitupun sebaliknya, walau cahaya di sekitar terang-benderang, bila mata kita buta, segala yang nampak jadi tidak kelihatan.

Ada kisah dua orang yang mendalami ilmu agama. Yang satu rumahnya jauh dari masjid, dan yang lain lebih dekat. Ketika adzan dikumandangkan, yang jauh bergegas menuju masjid. Ia bisa datang dan masuk ke masjid lebih awal, kemudian shalat sunnah, duduk dan berdzikir, dan bisa mengikuti shalat jamaah. Namun orang yang berdekatan dengan masjid, ketika adzan dikumandangkan, masih bersantai-santai di rumah, akhirnya ia masuk karena baru tiba di masjid setelah iqamat. Ia kehilangan kesempatan shalat sunnah.

Mengapa terjadi demikian? Padahal kedua orang ini sama-sama mengetahui keutamaan shalat berjamaah dan paham akan kemurkaan Allah kepada orang yang tidak shalat berjamaah. Ada perbedaan memang antar keduanya. Orang yang jauh dari masjid memiliki dua cahaya, cahaya wahyu dan cahaya hidayah. Yang satunya hanya punya cahaya wahyu semata. Hidayah belum mengejawantah dalam dirinya.

Hati Ibarat Rumah

Ada tiga macam rumah, pertama, Rumah Raja, di dalamnya ada simpanannya, harta dan perhiasannya. Kedua, Rumah Kelas Menengah, di dalamnya ada simpanan, harta dan perhiasan yang sedang-sedang saja. Dan ketiga adalah Rumah si Miskin, tidak ada isinya.

Jika ada seorang pencuri, rumah mana yang akan dimasukinya?

Tidaklah mungkin kalau ia akan masuk ke rumah yang kosong karena rumah kosong tidak ada barang yang bisa dicurinya. 
Karena itulah dikatakan kepada Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhu, bahwa ada orang-orang Yahudi mengklaim bahwa di dalam ibadahnya mereka 'tidak pernah terganggu', maka Ibnu Abbas berkata: "Apakah yang bisa dikerjakan oleh syetan dalam rumah yang sudah rusak?" 

Pencuri juga akan berpikir berkali-kali kalau ingin mencoba mencuri di rumah raja, karena tentunya rumah raja dijaga oleh banyak penjaga dan tentara.

Rumah si Miskin mengibaratkan hati yang kosong dari kebajikan, yaitu hati orang-orang kafir dan munafik, yang sudah dikuasai setan, yang telah menjadikannya sebagai tempat tinggal mereka. Maka adakah rangsangan untuk mencuri dari rumah itu sementara yang ada didalamnya semuanya telah habis ‘dikuasai’ setan ? Inilah yang disebut dengan tipe hati yang dikuasai nafsu Amarah (nafsu yang selalu mengajak pada keburukan).

23 Nov 2013

Catatan Seorang Suami

Menjadi suami.  Hal yang dahulu begitu kuimpikan. Entahlah rasa apa yang sedang menggelegak dalam jiwa. Namun kerinduan untuk segera bertemu dengan pasangan jiwaku seolah sudah melebihi kadar kemampuan seorang lajang untuk bertahan. Dan kini aku hadir sebagai seorang suami, impian yang mewujud, ya aku kini bersanding dengan seorang bidadari.

Kemudian kini hidupku sedang penuh diliputi kejutan-kejutan. Kehidupan yang semula kupahami (seolah) sebagai kebebasan tanpa batas, kini harus benar-benar menyadari, ada hati yang harus dijaga, ada benih cinta yang harus senantiasa disemai, dipupuk dan dijaga pertumbuhannya di ladang jiwa.

Hadir sebagai seorang suami, menuntut diri untuk senantiasa menghadirkan dan membaluri pasangan kita dengan kebahagiaan, karena kebahagiaan terbesar seorang suami barangkali bukan sekedar terpenuhinya langit-langit harapan, namun melihat senyum manis bidadari kita terukir di wajahnya senatiasa adalah penghapus segala lara.
Di sinilah uniknya, cinta dan keinginan untuk memborong kebahagiaan untuknya terkadang menjadi semacam pintu untuk menyakitinya. Ironi.

Featured Post

Jangan Tertipu oleh Banyakanya Amal

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak amalan sholeh dan menahan diri dari perbuatan dosa. Se...