15 Jul 2014
18 Mar 2014
Imam Syatibi: Syariah, Untuk Kemaslahatan Manusia
Oleh Bahrul Ulum
Ulama satu ini dikenal sebagai Syaikhul Maqasid.
Gelar ini tidak lepas dari perannya yang berhasil menggabungkan teori ushul
fiqh dengan maqasid syariah. Penggabungan ini merupakan sebuah jalan keluar bagi
ushul fiqh sehingga tidak terkungkung oleh teks semata, dan menjadikan produk
fiqih lebih kapabel dan tidak mengabaikan kemaslahatan manusia. Proyek maqasid syariah yang dilakukan Syatibi
dalam kitabnya al-Muwafaqat fi ushul as-Syariah juga menjadi jembatan
yang menghubungkan antara ushul fiqh mutakalimin dan ushul fiqh fuqaha.
Kitab ini adalah kitab paling monumental diantara
karya-karya Imam Syathibi lainnya. Kitab yang terdiri dari 4 juz yang awalnya
berjudul al-Ta’rif bi Asrar al-Taklif ini berisi sebuah metodologi
mutakhir dalam memahami syariah. Dalam kitab ini, Imam Syatibi membahas konsep maqasid
syariah secara sistematis dan mendetail. Ia menjelaskan bahwa syariah
diturunkan kepada manusia semata-mata untuk kesejahteraan mereka. Ia berisi kaidah-kaidah
umum tentang kehidupan manusia, peraturan dan batas-batas yang semua manusia wajib mentaatinya dan melaksanakannya agar
kehidupan mereka teratur, tertib dan aman. Orang yang menjalankan syariah Islam
adalah orang yang paling bebas dan paling tenang, karena seluruh ajarannya,
baik yang kecil maupun yang besar mengandung maslahah bagi manusia itu sendiri,
walau dia tidak menyadarinya. Sebaliknya, yang keluar dan tidak mentaati aturan–aturan di dalamnya, akan terikat dan
terbeleggu dengan nafsunya, yang walau kelihatannya enak dan menyenangkan tetapi pada
hakekatnya adalah kerugian dan madharat. Kitab ini oleh para ahli ilmu diakui
sebagai karya ilmiah dalam bidang ushul fiqh yang berisi tentang reformasi
ilmiah syariah secara menyeluruh. Ia tidak hanya menjelaskan dasar- dasar ilmu
ushul fiqh dengan metodologi baru yang berlandaskan penelitian penuh (istiqra’)
dari sumber utama syariah yaitu al-Qur'an dan Sunnah, tapi juga menjelaskan
dasar-dasar utama untuk memahami syariah secara menyeluruh.
1 Feb 2014
Sejarah Hitam Perpecahan Umat 2
Oleh
Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql
Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql
Bagian Terakahir dari Dua Tulisan [2/2]
AL-IFTIRAAQ MAFHUMUHU ASBABUHU SUBULUL WIQAYATU MINHU
[Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya]
TOKOH-TOKOH AHLI BID'AH
Setelah berbicara tentang sejarah perpecahan umat, ada baiknya
kita lanjutkan pembicaraan tentang asal usul bid'ah. Guna mengetahui
tokoh-tokoh pencetus kelompok-kelompok sesat yang merupakan biang perpecahan.
Yaitu oknum-oknum yang mengusung bid'ah tersebut hingga menjadi pemimpin-pemimpin
sesat sampai hari Kiamat. Hingga sepeninggal mereka, terbuka lebarlah pintu
perpecahan, semakin bertambahlah orang-orang yang menyesatkan. Di antara
oknum-oknum tersebut ialah.
[1] Pelopor perpecahan : Ibnu Sauda' Abdullah bin Saba' Al-Yahudi, seorang Yahudi yang mengaku-ngaku beragama Islam. berikut pengikut dan konco-konconya. Ide kotornya pertama kali muncul sekitar tahun 34H. Ibnu Sauda' ini memadukan antara bid'ah Khawarij dan Syi'ah.
[2] Setelah itu Ma'bad Al-Juhani (meninggal dunia tahun 80H) meluncurkan pemikiran bid'ah seputar masalah takdir sekitar tahun 64H. Ia menggugat ilmu Allah dan takdirNya. Ia mempromosikan pemikiran sesat itu terang-terangan sehingga banyak meninggalkan ekses. Disamping orang-orang yang mengikutinya juga banyak. Namun bid'ahnya ini mendapat penentangan yang sangat keras dari kaum Salaf, termasuk di dalamnya para sahabat yang masih hidup ketika itu, seperti Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma.
Sejarah Hitam Perpecahan Umat 1
Oleh
Dr.
Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql
Bagian
Pertama dari Dua Tulisan [1/2]
AL-IFTIRAAQ
MAFHUMUHU ASBABUHU SUBULUL WIQAYATU MINHU [Perpecahan Umat ! Etiologi &
Solusinya]
Banyak
sekali faidah yang dapat dipetik dari pembicaraan seputar sejarah perpecahan
umat. Berbagai peristiwa yang terjadi di awal Islam tersebut sarat dengan ibrah
(pelajaran). Tentunya kami tidak mampu menyuguhkan sejarah perpecahan itu
secara terperinci, akan tetapi ada beberapa point yang dapat kita jadikan
pelajaran. Sembari meluruskan beberapa persepsi keliru sebagian orang sekitar
masalah tersebut dewasa in.
Pertama.
Sumbu perpecahan yang pertama kali muncul hanyalah berupa i'tiqad dan pemikiran yang tidak begitu didengar dan diperhatikan. Yang pertama kali di dengar oleh kaum muslimin dan para sahabat adalah aqidah Saba'iyah yang merupakan cikal bakal aqidah Syi'ah dan Khawarij. Itulah benih awal perpecahan yang ditaburkan di tengah-tengah kaum muslimin. Aqidah ini disebarkan oleh penganutnya secara terselubung nyaris tanpa suara. Orang pertama yang memunculkan juga asing, nama dan identitasnya tidak jelas. Orang menyebutnya Ibnu Sauda' Abdullah bin Saba'. Ia mengacaukan barisan kaum muslimin dengan aqidah sesat itu. Sehingga aqidah tersebut diyakini kebenarannya oleh sejumlah kaum munafikin, oknum-oknum yang merancang makar jahat terhadap Islam, orang-orang jahil dan pemuda-pemuda ingusan. Begitu pula sekelompok barisan sakit hati yang negeri, agama dan kerajaan mereka telah ditundukkan oleh kaum muslimin, yaitu orang-orang yang baru memeluk Islam dari kalangan bangsa Parsi dan Arab Badui. Mereka membenarkan hasutan-hasutan Ibnu Saba', membuat makar tersembunyi atas kaum muslimin, hingga muncullah cikal bakal Syi'ah dan Khawarij dari mereka.
Sumbu perpecahan yang pertama kali muncul hanyalah berupa i'tiqad dan pemikiran yang tidak begitu didengar dan diperhatikan. Yang pertama kali di dengar oleh kaum muslimin dan para sahabat adalah aqidah Saba'iyah yang merupakan cikal bakal aqidah Syi'ah dan Khawarij. Itulah benih awal perpecahan yang ditaburkan di tengah-tengah kaum muslimin. Aqidah ini disebarkan oleh penganutnya secara terselubung nyaris tanpa suara. Orang pertama yang memunculkan juga asing, nama dan identitasnya tidak jelas. Orang menyebutnya Ibnu Sauda' Abdullah bin Saba'. Ia mengacaukan barisan kaum muslimin dengan aqidah sesat itu. Sehingga aqidah tersebut diyakini kebenarannya oleh sejumlah kaum munafikin, oknum-oknum yang merancang makar jahat terhadap Islam, orang-orang jahil dan pemuda-pemuda ingusan. Begitu pula sekelompok barisan sakit hati yang negeri, agama dan kerajaan mereka telah ditundukkan oleh kaum muslimin, yaitu orang-orang yang baru memeluk Islam dari kalangan bangsa Parsi dan Arab Badui. Mereka membenarkan hasutan-hasutan Ibnu Saba', membuat makar tersembunyi atas kaum muslimin, hingga muncullah cikal bakal Syi'ah dan Khawarij dari mereka.
Hal ini ditinjau dari sudut pandang aqidah dan keyakinan sesat yang pertama kali muncul yang menyelisihi asas Islam dan Sunnah.
Adapun kelompok sempalan yang pertama kali
muncul yang memisahkan diri dari imam kaum muslimin adalah kelompok Khawarij.
Benih-benih Khawarij ini sebenarnya berasal dari aqidah Saba'iyah. Banyak orang
yang mengira keduanya berbeda, padahal sebenarnya cikal bakal Khawarij berasal
dari pemikiran kotor Saba'iyah. Perlu diketahui bahwa Saba'iyah ini terpecah
menjadi dua kelompok utama : Khawarij dan Syi'ah.
PERSATUAN AQIDAH DAN MANHAJ YANG BERBEDA: BISAKAH?
Ditanyakan kepada Fadhilatusy Syaikh Shalih Fauzan Abdullah Al-Fauzan:
APAKAH MUNGKIN PERSATUAN ITU (AKAN TERWUJUD) BERSAMAAN DENGAN BERBEDA-BEDANYA MANHAJ DAN AKIDAH?
Jawab beliau (Syaikh Shalih Al-Fauzan):
Persatuan tidak akan terwujud bersamaan dengan (adanya berbagai kelompok) yang memiliki bermacam-macam manhaj dan akidah, sebaik-baik bukti akan hal itu adalah: Keadaan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasul shalallahu 'alaihi wasallam, di mana mereka saat itu berpecah-belah dan saling bertengkar, maka setelah mereka masuk Islam dan berada di bawah bendera tauhid, akidah dan manhajnya menjadi, maka bersatulah mereka, dan berdiri tegaklah daulahnya.
Sungguh Allah Ta'ala mengingatkan tentang hal itu dengan firman-Nya:
"Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (Ali Imran: 103)
Dan Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya shalallahu 'alaihi wasallam:
"Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah akan mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-anfal: 63)
31 Jan 2014
Mampukah Kita Bersyukur ?
Diantara sifat orang beriman adalah ketika mendapat
berbagai kenikmatan, dia bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan
nikmat tersebut yaitu Allah. Dia ucapkan: "Alhamdulillaah, segala puji
bagi Allah" dan ucapan yang sejenisnya.
Memang arti syukur sendiri adalah memuji kepada Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan kebaikan. Tapi cukupkah dengan hanya memuji melalui lisan semata?
Sebenarnya tidak cukup hanya dengan itu, karena betapa banyaknya orang
yang memuji Allah dengan lisan-lisan mereka ketika mendapatkan nikmat
tetapi bersamaan dengan itu tetap bergelimang dalam kemaksiatan.
Akan tetapi syukur itu mempunyai rukun-rukunnya yaitu tiga rukun. Dimana
syukurnya seorang hamba berporos pada tiga rukun tersebut –yang tidak
akan dinamakan syukur kecuali dengan terkumpul ketiga-tiganya- yaitu:
pertama: mengakui nikmat tersebut dengan batin (di dalam hati); kedua:
membicarakannya secara zhahir (yaitu lisan kita memuji Dzat yang telah
memberikan nikmat dan menyebut-nyebut nikmat tersebut); dan ketiga:
meminta bantuan dengan nikmat tersebut didalam melaksanakan ketaatan
kepada Allah (artinya menggunakan nikmat tersebut untuk melaksanakan
ketaatan kepada Allah).
SIAPA YANG HARUS DICINTAI
Manusia dalam
loyalitas dan perlepasan diri terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, orang yang
dicintai dengan kecintaan yang murni dan tidak dicampuri dengan permusuhan,
mereka itulah orang-orang beriman yang ikhlas, yang terdiri dari para nabi,
shiddiqin (orang-orang yang selalu membenarkan), para syuhada' (orang-orang
yang mati dalam peperangan/mati syahid), dan orang-orang yang shalih, yang
berada di barisan paling depan di antara mereka adalah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, maka kecintaan kepada beliau haruslah lebih besar dibanding
dengan kecintaan kepada diri sendiri, anak, orang tua dan seluruh manusia,
kemudian (kecintaan setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) kepada
isteri-isteri beliau Ummahatul Mukminin, Ahli Baitnya (keluarganya) yang baik,
Sahabat-sahabat beliau yang mulia, khususnya para Khulafaur Rasyidin, sepuluh
orang Sahabat (yang dijanjikan bagi mereka jannah), kaum Muhajirin, kaum
Anshar, Ahli Badar, Ahlu Baitur Ridwan (yang ikut Bai'at Ridwan), kemudian
seluruh sahabat, para Tabi'in, dan yang hidup pada masa yang diutamakan oleh
Allah dan para Salaf yang shalih serta imamnya seperti empat orang imam madzhab
(Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad Rahimahullah).
Allah Ta'ala
berfirman: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan
Anshar), mereka berdo'a: Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara
kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami,
sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (Al-Hasyr:
10)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Featured Post
Jangan Tertipu oleh Banyakanya Amal
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak amalan sholeh dan menahan diri dari perbuatan dosa. Se...
-
Suara anda sangat mempengaruhi nasib dan kemajuan Kabupaten Seluma 5 tahun mendatang,. Mahasiswa yang di Bengkulu, jangan lewatkan untuk iku...
-
Ucun Ngulang Miang dimano be kito kuliah asak jemo seluma itu samo bae,ndo gango bedao kawan2.aq yakin ...