25 Jun 2012

Disperindag Makin Tak Berdaya


/Petugas Parkir Jual Lapak Dagangan

RBI, BENGKULU- Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Perindag) Kota Bengkulu seakan tak berdaya lagi. Polemik yang muncul jelang perelokasian ratusan pedagang pakaian bekas Pasar Panorama Kota Bengkulu makin parah. Kini terjadi transaksi jual beli lapak dagangan antara petugas parkir dengan sejumlah pedagang. Akibatnya, undian penempatan pedagang terkesan sia-sia, karena lokasi berjualan sudah ditempati oleh pedagang yang bukan bagian dari perelokasian pedagang untuk tahap II pembangunan Pasar Percontohan Nasional (PPN) di Pasar Panorama.

"Petugas parkir yang bermain, mereka menyewakan lahan parkirnya kepada para pedagang lain. Padahal sudah jelas-jelas, kawasan itu untuk lokasi pedagang yang terkena relokasi. Bukan kami tidak ingin ribut, kami cuma mematuhi aturan saja. Mestinya Disperindag segera tindak para petugas parkir tersebut," ujar salah seorang pedagang pakaian bekas Panorama Yanti (38) di Pasar panorama, Minggu (24/6).

Untuk pasaran harganya, menurut Yanti, para petugas parkir mematoknya dengan harga yang bervariasi tergantung dengan luasan lahan parkir yang mereka miliki. Rentang harga yang diperjualbelikan, diatur pembayarannya bisa per hari ataupun sampai sewa per bulan. "Sehari ada yang Rp 10 ribu diluar uang kebersihan dan keamanan. Sementara untuk yang per bulan, mulai dari Rp 250 ribu sampai Rp 1 jutaan kabarnya," ujarnya.

Pedagang pakaian bekas lainnya Yamin Ginting, juga meminta sikap tegas dari Disperindag dan UPTD Pasar Panorama untuk persoalan ini. Dikhawatirkan tanpa ada upaya untuk menindak persoalan ini, konflik akan mengemuka, baik antar pedagang dengan pedagang dan antara pedagang dengan para petugas parkir.

Ditambahkan, polemik jual beli lahan parkir tersebut, sebenarnya sudah pernah terjadi pada pembangunan pasar Panorama pada tahap I. Sejumlah oknum memanfaatkan situasi tersebut untuk mencari keuntungan. Sehingga, ketika lahan parkir yang harusnya dijadikan lokasi penempatan auning sementara, dengan dalih akan kehilangan mata pencaharian mereka. Para petugas parkir menjajakan lahan parkir mereka sebagai pengganti pendapatan mereka yang hilang. "Dari semenjak awal informasi yang kami terima adalah gratis. Jelas kami tidak akan rela kalau harus bayar. Perelokasian ini saja sudah termasuk merugikan kami, apalagi dengan dipungut bayaran lagi. Disperindag atau Pemkot harus sikapi ini segera," ujar Yamin.

//Setoran Hilang, Sewa Lahan untuk Pengganti

Terpisah, salah seorang petugas parkir di jalan Kedondong, Irwan Suardi, mengaku terpaksa melakukan jual beli lahan parkir tersebut. Sebab, dengan aktivitas relokasi pasar tersebut, pendapatan hariannya dari retribusi parkir dipastikan akan kehilangan. Dirinya harus mencari lokasi baru ataupun terpaksa mengurangi lahan parkir yang bisa dikelolanya.

"Setoran kami besar per bulannya, bisa mencapai Rp 1,2 juta. Jadi kalau kami bebaskan lahan parkir kami, pakai apa kami setoran nanti. Belum lagi dengan pendapatan untuk rumah tangga, 1 atau 2 minggu mungkin masihlah bisa diatasi, tapi kalau sudah 6 bulan siapa yang bisa tahan," ujar Irwan. 
Namun demikian, menurut Irwan, transaksi sewa lahan parkir tersebut, prinsipnya tidak dipaksakan, tergantung dengan kemampuan para pedagang yang ingin menyewanya. Bisa dibayarkan per hari atau bisa juga dibuat per bulan. 

"Bukan maksud untuk menyulitkan pembangunan pasar ini. Kami cuma bertahan untuk makan. 6 bulan bukan waktu yang singkat tanpa ada pendapatan, mencari kerja baru tidak mungkin. Dari pembangunan tahap I dulu sudah kami sampaikan, tolong perhatikan dampaknya ke kami jangan cuma ke pedagang saja, biar tidak berat sebelah," ujar Irwan yang dibenarkan oleh petugas parkir lainnya. (jek

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Jangan Tertipu oleh Banyakanya Amal

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak amalan sholeh dan menahan diri dari perbuatan dosa. Se...