//Lagi, Binduriang
Berdarah 1 Warga Blitar Tewas Ditembak
RBI, CURUP – Bentrok antara aparat kepolisian dengan warga Lembak, kembali terjadi. Akibat bentrokan itu, Edi Bagong (38) bin Gumbret warga Desa Blitar Kecamatan Binduriang tewas ditembak aparat kepolisian tepat dibagian mata kanan.
Menurut polisi Edi
diduga sebagai pelaku perampokan sebuah bus Jurusan Jambi-Seginim yang melintas
di jalan lintas Curup-Lubuk Linggau tepatnya di Desa Kepala Curup, pukul 23.30
WIB. Bus Doa bersama dengan nopol BD 7019 BK tersebut membawa 24 penumpang yang
semuanya berasal dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Pelaku yang diketahui
berjumlah 30-an orang menggunakan sepeda motor, terlebih dahulu memecahkan kaca
bus bagian depan dan belakang lalu menjarah seluruh harta berharga milik
penumpang.
Kapolres RL, AKBP I
Ketut Yuda Karnyana Irawan, S.Ik, di Polsek Sindang Kelingi, menuturkan, awal
kejadian bermula saat beberapa petugas polisi ingin membereskan lokasi pos
terpadu yang telah dibubarkan secara resmi sekitar pukul 20.00 - 21.00 WIB.
Saat berada di Desa Cahaya Negeri, aparat sempat mendapat lemparan batu oleh
warga sekitar. Namun Polisi tetap menahan diri dan tidak memberikan perlawanan
apapun. Tidak lama berselang, petugas Polsek dan Polres RL menerima laporan
pengaduan bahwa sebuah bus asal Jambi dengan 24 penumpang tujuan ke Seginim
menjadi korban perampokan di Desa Kepala Curup. Polisi langsung melakukan
pengejaran terhadap pelaku perampokan yang diperkirakan berjumlah 30-an orang
ke arah Kepala Curup hingga Desa Cahaya Negeri.
Setibanya di Desa Cahaya Negeri warga sekitar melakukan pelemparan batu, bom molotov dan tombak ke arah aparat. Bentrokan pun tak terelakkan, hingga berujung pada tewasnya Edi Bagong akibat timah panas. Diduga kuat Edi merupakan salah satu pelaku perampokan terhadap sebuah bus asal Jambi.
Selain itu, diperkirakan 1 warga lainnya mengalami luka tembak dibagian kaki. Sedangkan dari pihak polisi, sebuah mobil dinas hancur terkena lemparan batu dan tombak warga. "Jadi, yang tewas itu adalah pelaku perampokan bus malam tadi (kemarin). Apa yang kami lakukan malam tadi adalah semata untuk mengejar pelaku curas dan itu adalah tugas kami untuk menindak siapa pun pelaku perampokan. Kondisi pada malam itu tidak lain sedapat mungkin untuk menghindari bentrokan. Tapi lantaran sikap warga yang membabi-buta kepada anak buah saya makanya kita lakukan langkah bela diri karena makin didesak. Saya minta jangan diplintir. Kembali saya tegaskan, warga yang kita tembak itu adalah pelaku perampokan sebuah bus. Apa yang dilakukan Polisi sudah sesuai prosedur dan sebagai tindak lanjut laporan masyarakat maka dilakukan pengejaran terhadap pelaku perampokan," ujar Yuda kepada jurnalis, Kamis siang (12/7).
Sementara itu, Dandim 0409 Rejang Lebong, Letkol Inf. Yanto Kusno Hendarto, usai melakukan dialog dan melayat ke rumah duka, mengatakan, "Kami hanya berkapasitas sebagai aparat teritoral menjaga stabilitas suatu daerah. Apalagi yang menjadi pemicu atau penyebab bentrokan itu terjadi karena ada korban yang dirampok dan polisi melakukan pengejaran. Soal ada warga yang ditembak hingga tewas ya kita kembalikan kepada warga, khususnya keluarga korban untuk berdialog langsung dengan kapolres. Makanya tadi (kemarin) langsung saya antar pihak keluarga korban bertemu dengan kapolres. Intinya pihak keluarga ingin menempuh jalur hukum," terang Yanto.
Dijelaskan, pasca
bentrokan tersebut kodim telah menyiagakan sebanyak 30 personel di beberapa
titik yang dianggap rawan dan sedapat mungkin melakukan pendekatan kepada
warga. "Petugas sudah kita sebar untuk menjaga keamanan sampai suasana
menjadi kondusif lagi," jelas Yanto.
Keterangan warga Desa
Blitar, Edi Bagong diklaim merupakan orang baik-baik. Bahkan menurut warga,
saat malam kejadian Edi sempat membantu mengantarkan salah satu mobil untuk
melintas. Nahas saat hendak pulang dirinya langsung terkena tembakan dari
aparat. Sikap tidak terima atas kematia Edi ini terus mendapat dukungan warga
hingga akhirnya mendesak untuk dilakukan otopsi.
// Blokade 14 Jam
Pascabentrok, warga
Desa Lembak melakukan aksi sepihak. Warga meluapkan kemarahannya dengan
memblokir jalan Curup - Lubuklinggau menggunakan batu besar, cor patok batas
hingga batang kayu yang dibakar hingga menimbulkan kobaran api cukup besar.
Pemblokiran jalan berlangsung sekitar 14 jam. Yakni antara pukul 00.00 WIB
hingga tadi sore (kemarin) pukul 15.00 WIB. Jalan baru dibuka kembali usai
pendekatan persuasif TNI yang dipimpin langsung Dandim Letkol Inf Yanto Kusno
Hendarto bersama tokoh masyarakat dan perangkat Desa setempat.
Berdasarkan pantauan Radar Bengkulu, beberapa kendaraan truk, fuso dan bus tidak bisa melanjutkan perjalanannya melintasi jalur Curup-Lubuklinggau. Proses pembukaan jalan pun berlangsung cukup menegangkan karena banyak warga enggan membuka jalan. Arus kendaraan sepanjang Curup menuju Lubuklinggau terlihat lengang.
Berdasarkan pantauan Radar Bengkulu, beberapa kendaraan truk, fuso dan bus tidak bisa melanjutkan perjalanannya melintasi jalur Curup-Lubuklinggau. Proses pembukaan jalan pun berlangsung cukup menegangkan karena banyak warga enggan membuka jalan. Arus kendaraan sepanjang Curup menuju Lubuklinggau terlihat lengang.
//Warga Mojorejo Nyaris Dibunuh
Salah satu warga Desa Mojorejo, Agus (38) nyaris dibunuh warga Desa Blitar Kecamatan Binduriang lantaran dicurigai menjadi intel polisi yang memberikan informasi ke polres. Warga sekitar yang mengetahui kabar tersebut langsung terbawa emosi dan ingin membunuh Agus. Namun Agus berhasil diamankan Kades Blitar di rumah duka. Bahkan, sejumlah warga sempat mendesak untuk segera menghabisi nyawa Agus, untunglah niat tersebut berhasil digagalkan berkat bantuan petugas TNI yang berada dikediaman rumah duka. Kecurigaan warga terungkap saat warga melihat gerak gerik Agus dan langsung diamankan warga serta menyita Hp milik Agus. Setelah dibuka isi SMS-nya berisikan keterangan informasi yang ditujukan ke Polres. "Makanya mengetahui kabar penyanderaan tersebut kami bersama Kapolres langsung melakukan pembebasan sandra di rumah duka. Tidak lama berselang sebanyak 1 peleton polisi dibantu TNI dan sejumlah tokoh masyarakat akhirnya berhasil membebaskan Agus. Jika saja proses pembebasan terlambat, bukan tidak mungkin dia (Agus) dibunuh warga yang sudah kadung emosi dan marah," kata Yanto.
Proses pembebasan
sandra ini pun menurut Yanto, dilakukan cukup hati-hati dan dalam tempo
singkat. Dia menjelaskan, setibanya rombongan TNI bersama 1 peleton petugas
tergabung dari unsur polisi dan brimob di Desa Blitar, dandim bersama petugas
TNI langsung menuju rumah duka, tempat Agus diamankan. Sebanyak 4 anggota TNI
langsung masuk ke rumah duka tanpa banyak bicara. Dalam hitungan menit anggota
yang keluar berjumlah 5 orang dan ternyata satu orang yang dibawa keluar itu
adalah Agus sambil mengenakan pakaian loreng layaknya seperti anggota TNI.
"Upaya itu kita lakukan agar tidak diketahui warga sekitar karena saya
lihat ada beberapa warga yang membawa sejata tajam. Tapi, saya lihat tadi (kemarin)
ada juga warga yang tahu dan mendekati mobil anggota yang membawa Agus
keluar," papar Yanto.
Warga yang tahu
proses pembebasan Agus pun langsung mendekati kendaraan anggota TNI yang
terparkir tepat di depan rumah duka. Bahkan sejumlah warga terlihat kecewa dan
tidak rela melihat Agus dibawa anggota TNI. Kekecawaan warga Blitar pun makin
menjadi saat Agus keluar dengan cepat dikawal petugas TNI lalu meninggakan
kediaman rumah duka menuju Curup.
// Mediasi Gagal
// Mediasi Gagal
Upaya dialog yang
ditempuh pihak keluarga korban Edi Bagong dengan Kapolres RL AKBP I. Ketut Yuda
Karyana, S.Ik, di ruangan Kapolsek Sindang Kelingi, kemarin, tidak menemui
titik terang. Karena keduannya tetap dengan prinsipnya masing-masing. Kapolres
menegaskan apa yang dilakukan anak buahnya semata untuk menindak dan mengejar
pelaku perampokan sedangkan dari pihak keluarga korban menginkan Edi dilakukan
otopsi dan menuntut jalur hukum. "Kami selaku anggota keluarga kecewa
dengan sikap kapolres yang tidak mau bertanggung jawab dan hanya mengucapkan
keprihatinan atas kejadian yang dialami anggota keluarga kami. Padahal kami
ingin dilakukan otopsi terhadap jenazah adik saya untuk mengeluarkan proyektil
peluru di bagian mata kanan. Yang jelas kami ingin menempuh jalur hukum atas
penembakan yang kami nilai tidak tepat. Karena adik saya ini orang baik dan
bukan pelaku perampokan," ujar Purwanto warga Desa Pelalo Kecamatan
Binduriang.
Rapat antara pihak keluarga korban dengan Kapolres RL, I Ketut Yuda Karydi di ruang Kapolsek Sindang Kelingi, kemarin siang berlansung tertutup. Sejumlah awak media yang meliput kejadian itu tidak diperkenankan masuk. Belum diketahui pasti apa saja poin yang dibicarakan. Namun dari keterangan pihak keluarga korban, mereka tetap menginginkan upaya hukum terhadap pelaku yang menembak mati Edi.
Pantauan Radar
Bengkulu, Edi Bagong yang tewas ditembak sempat dilarikan ke RSUD Curup pukul
04.30 WIB untuk mendapatkan pertolongan dan perawatan medis. Jenazah Edi
dikebumikan kemarin sore setelah dilakukan upaya dialog dimotori pihak TNI dan
tokoh masyarakat sekitar Blitar serta perangkat desa.
No comments:
Post a Comment