Karya : Andi Sri Suriati Amal
tentang-pernikahan.com - Orangnya sederhana, polos, baik hati dan
terkesan agak kaku. Begitulah kira-kira gambaran yang saya tangkap tentangnya.
Tapi di balik kesederhanaan dan kepolosannya saya menemukan sesuatu yang
-menurutku- istimewa. Jalan pikirannya yang kadang-kadang susah dimengerti oleh
banyak orang. Belum lagi sikap keukeuhnya yang bikin sebagian orang malas
meladeninya lama-lama.
Dia berbeda dari kebanyakan orang yang saya kenal. Tapi saya senang
mendengar semua ceritanya. Justru dari situlah saya tahu dia memiliki
keistimewaan.
Dari kisahnya saya tahu betapa kuat keinginannya mewujudkan rumah tangga
sakinah, mawaddah wa rahmah. Tapi ini tidak mudah baginya, sebab pendidikan
formalnya tidak tinggi. Pengetahuan agamanya pun pas-pasan. Sementara suaminya
seorang muallaf, dari lain bangsa dan negara pula. Suami masih belum bisa
meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama, keluhnya. Meski tidak sampai membuatnya
putus asa, hal itu cukup membuatnya terganggu, kadang bahkan menyebabkan
konflik.
Susah mengajak suaminya untuk lebih jauh mendalami agama tidak
menyusutkan semangatnya untuk terus belajar. Dia bahkan tidak pernah lelah pergi
menemani anaknya belajar mengaji dan fardhu ain. Seringkali bahkan menunggui
selama berjam-jam. Walhasil, anak lelakinya yang baru berumur 7 tahun itupun
sudah bisa membaca Qur'an dan menghafal beberapa surah pendek. Bahkan sudah
hafal beberapa hadis dan juga tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu.
Anaknya itu memang berbeda dengan banyak anak yang lahir di negeri yang
serba bebas ini. Biasanya anak-anak di sini dibebaskan memilih sendiri pelajaran
apa yang mereka suka sebagai tambahan di samping pelajaran sekolah. Kebanyakan
mereka tidak sempat lagi belajar mengaji karena waktunya sudah penuh dengan
les-les lain seperti main piano, ballet atau matematika.
Saya ikut terharu ketika dengan senangnya dia bercerita bagaimana
anaknya itu mengajak bapaknya ikut sholat berjamaah bersama mereka. Meskipun
susah pada awalnya, tapi dia lumayan lega karena suaminya mau duduk bersama dan
berdiam diri menyaksikan mereka sholat. Alasannya, sholat itu cukup dengan
mengingat Allah saja. Tentu saja hal ini membuat si anak tidak diam saja. Anak
kecil itupun mencoba mendebat bapaknya, yang tentu saja berakhir si kecil
ngambek dan kesal sama bapaknya.
Dengan kesal dia bilang ke mamanya, "Ah, sudahlah Ma. Tak usah pedulilah
dengan bapak itu." Dijawabnya, "Sabar Nak, tidak boleh begitu. Kita harus
berusaha terus agar bapak mau sholat dan sebagainya. Kamu sayang kan sama bapak?
Coba bayangkan, jika kamu kelak masuk surga terus melihat bapak kamu dilempar ke
neraka. Sedih gak kamu? Kamu pasti menangis. Karena itu jangan pernah menyerah.
Kita usahakan dan doakan terus agar bapak terbuka hatinya dan mendapat
hidayah."
Tidak jarang juga percekcokan terjadi antara dirinya dan suaminya jika
kesabarannya hilang. Bahkan pernah sampai putus asa dan timbul keinginan untuk
berpisah dari suaminya. Tapi ketika disadarinya bahwa suaminya itu adalah
anugerah sekaligus tanggungjawab baginya, diurungkannya niatnya. Batapa tidak,
suaminya telah bersedia menikahinya dan masuk Islam karenanya adalah sesuatu
yang sangat berharga baginya. Meskipun tidak sedikit dari keluarga besarnya yang
menentang pernikahan itu. Mereka kebanyakan khawatir kalau dirinya yang akan
'terbawa' oleh suaminya.
Bercerai bukanlah hal yang sulit di negeri ini. Asal ada alasan, si
isteri bisa saja dengan mudah menggugat cerai suaminya. Dan meskipun sudah
bercerai, isteri tidak perlu khawatir tentang biaya hidupnya kelak. Karena bila
bercerai menurut hukum di Jerman, suami tetap berkewajiban untuk membiayai
isteri begitu juga anak-anaknya hingga mereka berumur 18 tahun. Tapi saran dari
sebagian temannya agar bercerai saja tidak dipedulikannya.
Suatu waktu dengan suara lirih dia mengatakan padaku, "Saya menyayangi
suami saya. Saya ingin pernikahan kami tidak hanya di dunia saja. Saya berharap
terus bersamanya hingga ke syurga kelak. Mohon doanya
ya..."
Mungkinkah segala yang diimpikannya terkabul? Sulit baginya
membayangkannya. Tapi dia percaya bahwa Allah mencintai dirinya dan keluarganya.
Kehamilan keduanya setelah kelahiran anak pertamanya tujuh tahun lalu menurutnya
adalah bukti kasih sayang Allah kepada keluarganya. Dan sebagai penyemangat
baginya untuk terus bersyukur dan berjuang di jalan-Nya.
No comments:
Post a Comment