23 Jun 2012

Berapakah Skala Moralitas Kita ?


Oleh : Ubaydillah, AN

Tiga Hal Tentang Moralitas

Dari sekian banyak nasehat kuno tentang moral, ada sedikitnya tiga kesimpulan yang bisa dimunculkan di sini. Pertama, di dunia ini sebetulnya tidak akan pernah terjadi krisis orang yang tahu moralitas (kebenaran dan kebaikan). Yang selalu krisis adalah orang yang melaksanakannya. Semua orang sudah tahu apa yang baik dan apa yang benar, tetapi hanya beberapa orang saja yang mau menjalankannya. Ajaran agama menjelaskannya dengan istilah kemakrufan dan kemungkaran (amr ma’ruf). Ma’ruf itu artinya sesuatu yang sudah diketahui oleh hati kecil kita. Sedangkan munkar itu adalah sesuatu yang ditolak oleh hati kecil. Hati kecil manusia rupanya sudah punya radar yang bertugas untuk menyeleksi perilaku (diri sendiri dan orang lain) yang pantas diterima dan yang pantas ditolak. Kedua, setiap orang itu punya kemampuan yang berbeda-beda dalam menaati seruan hati kecilnya. Ini tergantung pada proses aktualisasi-diri (baik internal dan eksternal). Seruan hati adalah dorongan batin yang men-drive kita untuk melakukan kebaikan atau kebenaran. 


Nah, karena kemampuan manusia itu berbeda-beda, maka dibutuhkanlah peraturan, polisi, penjara, hukum, sistem, dan seterusnya. Kenapa? Ada orang yang seruan hatinya tertutup oleh nafsunya, ada yang tertutup oleh kebodohannya, ada yang tertutup oleh kelemahan dan ketidakberdayaannya, dan lain-lain. Ada orang yang sanggup menjalankan seruan hatinya pada keadaan yang mendukung saja. Ada yang sanggup untuk kehidupan pribadinya saja. Ada yang sanggup kalau diawasi oleh polisi. Dan seterusnya dan seterusnya. Karena itu, ada petuah yang mengajarkan bahwa untuk orang yang kemampuannya rendah, perlu diatasi dengan cemeti (hukuman, ancaman, dst). Tetapi untuk orang yang kemampuannya tinggi hanya perlu diingatkan dengan isyarat, penjelasan yang halus, atau peringatan yang beradab. Kemampuan di sini mencakup kemampuan individu dan kemampuan kolektif. Misalnya saja untuk kasus disiplin lalu lintas di kita. Prakteknya itu tidak cukup hanya dikasih tulisan atau rambu-rambu. Bahkan kalau polisi diterjunkan, itu tidak cukup satu orang. 

Ketiga, masalah besar yang dihadapi manusia tentang moral adalah adanya jarak. Ada jarak antara hati nurani dengan ucapannya, dengan prilakunya, dengan sikapnya, dengan jabatannya, dengan posisinya, dan seterusnya. Tidak semua orang yang berbicara moral itu pasti bermoral. Mungkin saja itu ucapannya, tuntutan profesi, desakan kepentingan atau karena kode etik kerja. Kalau kita lihat di tivi, semua orang yang tampil di sana mendadak menjadi bijak, bermoral, atau berwibawa. Ada yang karena benar-benar begitu tetapi ada yang karena tuntutan kamera.

Karena itu ada yang membedakan antara karakter dan kepribadian. Karakter adalah siapa diri kita yang sebenarnya. Karakter adalah akhlak. Akhlak adalah diri yang kita ciptakan (Arab: kholaqo). Karakter adanya di level diri yang esensi. Sedangkan kepribadian adalah diri yang kita desain untuk menciptakan imej tertentu pada keadaan tertentu atau untuk kepentingan tertentu. Kepribadian adanya di level permukaan. Ada juga terkadang yang tidak membedakan antara karakter dan kepribadian seperti ini. Secara fair perlu kita mengakui bahwa semua manusia itu sebetulnya "diuji" adanya jarak itu. Bedanya adalah, ada yang selalu berusaha mendekatkan jarak, ada yang tidak peduli, dan ada yang malah menjauhkan jarak itu. Usaha untuk mendekatkan jarak itulah yang disebut integritas (kemenyatuan antara prilaku dan suara hatinya). Karena tidak ada orang yang punya integritas sempurna, maka tugas kita adalah menyempurnakan integritas itu secara terus-menerus dan berdasarkan keadaan kita.
"Reputasi adalah apa yang orang lain pikirkan tentang diri Anda.
Kepribadian adaah apa nampak oleh orang lain dari diri Anda.
Karakter adalah apa yang sebenarnya diri Anda."
(Alfred Armand Montapert)
Skala Moralitas

Mengacu ke penjelasan Kohlberg (Stages of Moral Development, Lawrence Kohlberg, 1971), perbedaan kemampuan dan integritas itu dijelaskan dalam bentuk stage of development (tahapan perkembangan). Berdasarkan tahapan itu, skala moralitas manusia bisa dikelompokkan menjadi tiga besar di bawah ini: Skala Rendah. Pada tahap ini moralitas seseorang didorong oleh ketakutannya terhadap hukuman atau ancaman (fisik). Misalnya saja kita menjalankan birokrasi bersih karena KPK-nya sedang galak. Kita mau nggantri dengan tertib karena ada satpam dimana-mana. Kita beragama hanya karena takut dosa atau neraka, bukan sebagai aktualisasi-diri. Di atasnya lagi adalah moralitas yang didorong oleh keinginan-pribadi untuk mendapatkan keuntungan (self-interest). Misalnya kita tidak mau buang sampah sembarangan di rumah atau di kantor sendiri tetapi di tempat umum kita seenaknya.
Moralitas di situ terdorong oleh kepentingan pribadi. Di tayangan tivi atau koran, saya kerap melihat publik figur (pejabat atau artis) yang mengiklankan dirinya, namun sayang sekali tujuan akhirnya adalah untuk diri sendiri. Ayo pilihlah saya supaya menang, saya akan kaya, saya akan terhormat, atau supaya kaset dan CD saya laku keras. Anehnya, masyarakat yang menjadi "korban" kepentingan-pribadi si publik figur itu juga tidak terlalu mempersoalkan hal ini.

Skala Menengah. Pada tahap ini moralitas seseorang sudah didorong oleh keinginannya untuk menghormati orang lain. Apakah tindakan saya ini berefek buruk atau berefek baik bagi orang lain. Orientasi kita bukan semata diri sendiri tetapi sudah ke orang lain yang dekat dengan kita (personal). Di atasnya lagi adalah moralitas yang didorong oleh keinginan untuk menjaga keharmonisan, keteraturan dan keindahan sosial. Misalnya saja kita sudah bisa mengerem nafsu amarah untuk tidak geger di jalan raya karena menganggu orang lain. Kita tidak demo secara ngawur karena mengganggu orang lain. Kita tidak beropini atau berkhutbah dengan menghina orang lain karena bisa merusak kerukunan sosial. Skala Tinggi. Pada tahap ini moralitas seseorang didorong oleh rasa tanggung untuk menjalankan kontrak kehidupan sosial yang lebih beradab. Termasuk juga menghormati pendapat dan pendirian orang lain yang berbeda (bukan yang jelas-jelas melawan aturan yang benar). Di sini kita sudah belajar menjadi orang bijak. Bijaksana adalah kemampuan seseorang untuk menjatuhkan pilihan-pilihan positif (bagi diri sendiri dan orang lain) untuk hal-hal yang sifatnya pilihan (free choice).

Di atasnya lagi adalah moralitas yang sudah didorong oleh keinginan untuk menaati nilai-nilai universal dengan alasan yang sangat abstrak. Kita membantu anak-anak yang terkena bencana bukan karena SARA, tetapi karena mereka manusia atau karena itu baik. Kita aktif di kegiatan pembebasan perempuan dari penindasan bukan karena sama-sama perempuan (alasan jender), tetapi karena kezaliman manusia atas manusia atau karena tidak baik. "Manusia akan berkembang menjadi lebih kuat jika ia terus berusaha mencapai tujuan yang lebih positif dengan cara yang lebih positif."
(Adapted from: Shiller)

Penghalang Suara Hati Kecil

Jika dikatakan bahwa setiap orang itu sudah dipasang radar yang bertugas menyeleksi prilaku baik dan buruk, benar dan salah, bermanfaat dan merugikan, lalu kenapa prakteknya tidak berfungsi semua? Sebabnya adalah karena radar itu terhalang. Apa saja bentuk halangan itu? Kalau didetailkan satu persatu mungkin cukup banyak. Di bawah ini adalah daftar penghalang suara hati: Pertama, penilian-diri. Bagaimana seseorang menilai dirinya ternyata punya hubungan yang sangat mendukung (correlative relation) dengan perilakunya. Menurut kajian Dr. Maxwell Maltz, tindakan manusia itu erat kaitannya dengan bagaimana manusia itu mendefinisikan dirinyaâ€?. Secara moral, orang yang merasa tidak punya alasan untuk menjadi orang yang terhormat, akan mudah melakukan hal-hal yang kurang terpuji. Angkat kaki di transportasi publik, meludah sembarangan, dan lain-lain adalah contoh-contoh kecil yang menjelaskan penilain-diri itu.

Kedua, aktualisasi-diri. Aktualisasi di sini adalah proses yang kita lakukan untuk mengembangkan kapasitas atau resource dengan cara yang tidak melanggar untuk merealiasikan target-target positif atau tujuan positif (bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain). Banyak kalangan yang berpendapat bahwa mandeknya proses aktulisasi itu karena seseorang terlalu lama dan terlalu serius berkutat pada kebutuhan fisiologis (perut, materi, atau Id). Ada pembenaran moral yang kerap kita jadikan senjata. Misalnya kita berkesimpulan bahwa kalau perut kita belum kenyang, mana mungkin kita sempat berpikir moral? Secara permukaan, logika demikian sepertinya benar. Tetapi kalau ditelusuri lebih dalam, ternyata kebenarannya hanya berlaku untuk fase keadaan tertentu. Sebab, membaiknya kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan fisiologis tidak menjamin moralitas (meskipun ancaman fisiologis bisa mengancam moralitas). Dan lagi, kebutuhan fisiologis itu tidak ada habisnya.

Dengan kata lain, tuntutan fisiologis yang terlalu mendominasi akan berpotensi menghentikan proses aktulisasi. Hubungannya apa dengan moralitas? Moralitas itu terkait dengan sejauhmana kapasitas intelektual, emosional dan spiritual itu aktif. Aktivasi kapasitas itulah yang melatih kekuatan batin. Meminjam istilahnya Mahatma Gandhi, "hanya orang yang jiwanya kuat (berlimpah) yang sanggup untuk berkorban. Jiwa yang lemah hanya memberikan dua pilihan: antara menjadi korban atau mengorbankan diri sendiri dan orang lain". Nah, karena kekuatan moralitas itu juga sangat terkait dengan proses aktualisasi diri, makanya banyak kelompok masyarakat yang kecewa dengan pejabat yang menjadi pilihannya saat kampanye. Kenapa? Tidak semua janji-janji moral itu diungkapkan sebagai panggilan suara hati atau proses aktualisasi-diri. Ada yang dilakukan hanya sebagai trik untuk memuluskan kepentingan pribadi yang sifatnya sangat "Id", atau sangat materi.

Ketiga, keinginan-diri yang berlebihan atau penonjolan-diri. Keinginan itu hawa, sedangkan diri itu nafs. Jadi, keinginan-diri itulah hawa nafsu (subyektivitas kepentingan pribadi). Dalam agama dikatakan bahwa hawa nafsu itulah yang berpotensi menggeser suara Tuhan. Hawa nafsu bisa membuat seseorang menolak kebenaran atau kebaikan yang diketahuinya. Hawa nafsu bisa membuat seseorang tahu kebatilan tetapi tidak mengakuinya. Semua orang ditakdirkan punya hawa nafsu. Bedanya, ada orang yang bisa menguasai dan ada yang dikuasi. Panggilan moral dari suara hati akan terganjal apabila posisi kita dikuasai hawa nafsu itu. Mengacu ke hasil kajiannya Ian Marshall & D. Zohar (Spiritual Capital: 2005), posisi demikian akan memunculkan dominasi motivasi minus. Motivasi minus adalah dorongan untuk melakukan sesuatu yang nantinya akan berakibat merugikan atau mencelakakan (diri sendiri atau orang lain). Bentuk-bentuknya antara lain: 

Penonjolan-diri (ketidakpedulian dan persaingan yang kotor)
Kemarahan (mudah tersulut atau membabi buta)
Keserakahan (mengejar sesuatu karena merasa hampa di dirinya)
Rasa takut (curiga dan merasa ada ancaman di luar)
Keresahan (bingung, stress, dan depresi)
Apati (pesimis, masa bodoh, cuek terhadap situasi)
Malu dan rasa bersalah (tidak menemukan makna hidup yang lebih mendalam)
Depersonalisasi (terdekte oleh nafsu-egoisme, tidak memiliki prinsip yang berakar pada moralitas universal)
Orang lemah sangat sulit untuk bermurah hati
karena kemurahan adalah sifat orang kuat. 
(Mahatma Gandhi)

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Jangan Tertipu oleh Banyakanya Amal

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak amalan sholeh dan menahan diri dari perbuatan dosa. Se...