Oleh : Ubaydillah, AN
Tiga Hal Tentang Moralitas
Dari sekian banyak nasehat kuno tentang moral, ada sedikitnya
tiga kesimpulan yang bisa dimunculkan di sini. Pertama, di dunia ini sebetulnya
tidak akan pernah terjadi krisis orang yang tahu moralitas (kebenaran dan
kebaikan). Yang selalu krisis adalah orang yang melaksanakannya. Semua orang
sudah tahu apa yang baik dan apa yang benar, tetapi hanya beberapa orang saja
yang mau menjalankannya. Ajaran agama menjelaskannya dengan istilah kemakrufan dan
kemungkaran (amr ma’ruf). Ma’ruf itu artinya sesuatu yang sudah diketahui
oleh hati kecil kita. Sedangkan munkar itu adalah sesuatu yang ditolak oleh hati
kecil. Hati kecil manusia rupanya sudah punya radar yang bertugas untuk
menyeleksi perilaku (diri sendiri dan orang lain) yang pantas diterima dan yang
pantas ditolak. Kedua, setiap orang itu punya kemampuan yang berbeda-beda
dalam menaati seruan hati kecilnya. Ini tergantung pada proses aktualisasi-diri
(baik internal dan eksternal). Seruan hati adalah dorongan batin yang men-drive
kita untuk melakukan kebaikan atau kebenaran.
Nah, karena kemampuan manusia itu
berbeda-beda, maka dibutuhkanlah peraturan, polisi, penjara, hukum, sistem, dan
seterusnya. Kenapa? Ada orang yang seruan hatinya tertutup oleh nafsunya,
ada yang tertutup oleh kebodohannya, ada yang tertutup oleh kelemahan dan
ketidakberdayaannya, dan lain-lain. Ada orang yang sanggup menjalankan seruan
hatinya pada keadaan yang mendukung saja. Ada yang sanggup untuk kehidupan
pribadinya saja. Ada yang sanggup kalau diawasi oleh polisi. Dan seterusnya dan
seterusnya. Karena itu, ada petuah yang mengajarkan bahwa untuk orang
yang kemampuannya rendah, perlu diatasi dengan cemeti (hukuman, ancaman, dst).
Tetapi untuk orang yang kemampuannya tinggi hanya perlu diingatkan dengan
isyarat, penjelasan yang halus, atau peringatan yang beradab. Kemampuan di sini
mencakup kemampuan individu dan kemampuan kolektif. Misalnya saja untuk kasus
disiplin lalu lintas di kita. Prakteknya itu tidak cukup hanya dikasih tulisan
atau rambu-rambu. Bahkan kalau polisi diterjunkan, itu tidak cukup satu
orang.
Ketiga, masalah besar yang dihadapi manusia tentang moral
adalah adanya jarak. Ada jarak antara hati nurani dengan ucapannya, dengan
prilakunya, dengan sikapnya, dengan jabatannya, dengan posisinya, dan
seterusnya. Tidak semua orang yang berbicara moral itu pasti bermoral. Mungkin
saja itu ucapannya, tuntutan profesi, desakan kepentingan atau karena kode etik
kerja. Kalau kita lihat di tivi, semua orang yang tampil di sana mendadak
menjadi bijak, bermoral, atau berwibawa. Ada yang karena benar-benar begitu
tetapi ada yang karena tuntutan kamera.
Karena itu ada yang membedakan antara karakter dan
kepribadian. Karakter adalah siapa diri kita yang sebenarnya. Karakter adalah
akhlak. Akhlak adalah diri yang kita ciptakan (Arab: kholaqo). Karakter adanya
di level diri yang esensi. Sedangkan kepribadian adalah diri yang kita desain
untuk menciptakan imej tertentu pada keadaan tertentu atau untuk kepentingan
tertentu. Kepribadian adanya di level permukaan. Ada juga terkadang yang tidak
membedakan antara karakter dan kepribadian seperti ini. Secara fair perlu kita mengakui bahwa semua manusia itu
sebetulnya "diuji" adanya jarak itu. Bedanya adalah, ada yang selalu berusaha
mendekatkan jarak, ada yang tidak peduli, dan ada yang malah menjauhkan jarak
itu. Usaha untuk mendekatkan jarak itulah yang disebut integritas (kemenyatuan
antara prilaku dan suara hatinya). Karena tidak ada orang yang punya integritas
sempurna, maka tugas kita adalah menyempurnakan integritas itu secara
terus-menerus dan berdasarkan keadaan kita.
"Reputasi adalah apa yang orang lain pikirkan tentang diri
Anda.
Kepribadian adaah apa nampak oleh orang lain dari diri Anda.
Karakter adalah apa yang sebenarnya diri Anda."
(Alfred Armand Montapert)
Skala Moralitas
Mengacu ke penjelasan Kohlberg (Stages of Moral Development,
Lawrence Kohlberg, 1971), perbedaan kemampuan dan integritas itu dijelaskan
dalam bentuk stage of development (tahapan perkembangan). Berdasarkan tahapan
itu, skala moralitas manusia bisa dikelompokkan menjadi tiga besar di bawah
ini: Skala Rendah. Pada tahap ini moralitas seseorang didorong
oleh ketakutannya terhadap hukuman atau ancaman (fisik). Misalnya saja kita
menjalankan birokrasi bersih karena KPK-nya sedang galak. Kita mau nggantri
dengan tertib karena ada satpam dimana-mana. Kita beragama hanya karena takut
dosa atau neraka, bukan sebagai aktualisasi-diri. Di atasnya lagi adalah
moralitas yang didorong oleh keinginan-pribadi untuk mendapatkan keuntungan
(self-interest). Misalnya kita tidak mau buang sampah sembarangan di rumah atau
di kantor sendiri tetapi di tempat umum kita seenaknya.
Moralitas di situ terdorong oleh kepentingan pribadi. Di
tayangan tivi atau koran, saya kerap melihat publik figur (pejabat atau artis)
yang mengiklankan dirinya, namun sayang sekali tujuan akhirnya adalah untuk diri
sendiri. Ayo pilihlah saya supaya menang, saya akan kaya, saya akan terhormat,
atau supaya kaset dan CD saya laku keras. Anehnya, masyarakat yang menjadi
"korban" kepentingan-pribadi si publik figur itu juga tidak terlalu
mempersoalkan hal ini.
Skala Menengah. Pada tahap ini moralitas seseorang sudah
didorong oleh keinginannya untuk menghormati orang lain. Apakah tindakan saya
ini berefek buruk atau berefek baik bagi orang lain. Orientasi kita bukan semata
diri sendiri tetapi sudah ke orang lain yang dekat dengan kita (personal). Di
atasnya lagi adalah moralitas yang didorong oleh keinginan untuk menjaga
keharmonisan, keteraturan dan keindahan sosial. Misalnya saja kita sudah bisa
mengerem nafsu amarah untuk tidak geger di jalan raya karena menganggu orang
lain. Kita tidak demo secara ngawur karena mengganggu orang lain. Kita tidak
beropini atau berkhutbah dengan menghina orang lain karena bisa merusak
kerukunan sosial. Skala Tinggi. Pada tahap ini moralitas seseorang didorong
oleh rasa tanggung untuk menjalankan kontrak kehidupan sosial yang lebih
beradab. Termasuk juga menghormati pendapat dan pendirian orang lain yang
berbeda (bukan yang jelas-jelas melawan aturan yang benar). Di sini kita sudah
belajar menjadi orang bijak. Bijaksana adalah kemampuan seseorang untuk
menjatuhkan pilihan-pilihan positif (bagi diri sendiri dan orang lain) untuk
hal-hal yang sifatnya pilihan (free choice).
Di atasnya lagi adalah moralitas yang sudah didorong oleh
keinginan untuk menaati nilai-nilai universal dengan alasan yang sangat abstrak.
Kita membantu anak-anak yang terkena bencana bukan karena SARA, tetapi karena
mereka manusia atau karena itu baik. Kita aktif di kegiatan pembebasan perempuan
dari penindasan bukan karena sama-sama perempuan (alasan jender), tetapi karena
kezaliman manusia atas manusia atau karena tidak baik. "Manusia akan berkembang menjadi lebih kuat jika ia terus
berusaha mencapai tujuan yang lebih positif dengan cara yang lebih positif."
(Adapted from: Shiller)
Penghalang Suara Hati Kecil
Jika dikatakan bahwa setiap orang itu sudah dipasang radar
yang bertugas menyeleksi prilaku baik dan buruk, benar dan salah, bermanfaat dan
merugikan, lalu kenapa prakteknya tidak berfungsi semua? Sebabnya adalah karena
radar itu terhalang. Apa saja bentuk halangan itu? Kalau didetailkan satu
persatu mungkin cukup banyak. Di bawah ini adalah daftar penghalang suara
hati: Pertama, penilian-diri. Bagaimana seseorang menilai dirinya
ternyata punya hubungan yang sangat mendukung (correlative relation) dengan
perilakunya. Menurut kajian Dr. Maxwell Maltz, tindakan manusia itu erat
kaitannya dengan bagaimana manusia itu mendefinisikan dirinya�. Secara moral,
orang yang merasa tidak punya alasan untuk menjadi orang yang terhormat, akan
mudah melakukan hal-hal yang kurang terpuji. Angkat kaki di transportasi publik,
meludah sembarangan, dan lain-lain adalah contoh-contoh kecil yang menjelaskan
penilain-diri itu.
Kedua, aktualisasi-diri. Aktualisasi di sini adalah proses
yang kita lakukan untuk mengembangkan kapasitas atau resource dengan cara yang
tidak melanggar untuk merealiasikan target-target positif atau tujuan positif
(bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain). Banyak kalangan yang berpendapat
bahwa mandeknya proses aktulisasi itu karena seseorang terlalu lama dan terlalu
serius berkutat pada kebutuhan fisiologis (perut, materi, atau Id). Ada pembenaran moral yang kerap kita jadikan senjata.
Misalnya kita berkesimpulan bahwa kalau perut kita belum kenyang, mana mungkin
kita sempat berpikir moral? Secara permukaan, logika demikian sepertinya benar.
Tetapi kalau ditelusuri lebih dalam, ternyata kebenarannya hanya berlaku untuk
fase keadaan tertentu. Sebab, membaiknya kemampuan seseorang dalam memenuhi
kebutuhan fisiologis tidak menjamin moralitas (meskipun ancaman fisiologis bisa
mengancam moralitas). Dan lagi, kebutuhan fisiologis itu tidak ada habisnya.
Dengan kata lain, tuntutan fisiologis yang terlalu
mendominasi akan berpotensi menghentikan proses aktulisasi. Hubungannya apa
dengan moralitas? Moralitas itu terkait dengan sejauhmana kapasitas intelektual,
emosional dan spiritual itu aktif. Aktivasi kapasitas itulah yang melatih
kekuatan batin. Meminjam istilahnya Mahatma Gandhi, "hanya orang yang jiwanya
kuat (berlimpah) yang sanggup untuk berkorban. Jiwa yang lemah hanya memberikan
dua pilihan: antara menjadi korban atau mengorbankan diri sendiri dan orang
lain". Nah, karena kekuatan moralitas itu juga sangat terkait dengan
proses aktualisasi diri, makanya banyak kelompok masyarakat yang kecewa dengan
pejabat yang menjadi pilihannya saat kampanye. Kenapa? Tidak semua janji-janji
moral itu diungkapkan sebagai panggilan suara hati atau proses aktualisasi-diri.
Ada yang dilakukan hanya sebagai trik untuk memuluskan kepentingan pribadi yang
sifatnya sangat "Id", atau sangat materi.
Ketiga, keinginan-diri yang berlebihan atau penonjolan-diri.
Keinginan itu hawa, sedangkan diri itu nafs. Jadi, keinginan-diri itulah hawa
nafsu (subyektivitas kepentingan pribadi). Dalam agama dikatakan bahwa hawa
nafsu itulah yang berpotensi menggeser suara Tuhan. Hawa nafsu bisa membuat
seseorang menolak kebenaran atau kebaikan yang diketahuinya. Hawa nafsu bisa
membuat seseorang tahu kebatilan tetapi tidak mengakuinya. Semua orang ditakdirkan punya hawa nafsu. Bedanya, ada orang
yang bisa menguasai dan ada yang dikuasi. Panggilan moral dari suara hati akan
terganjal apabila posisi kita dikuasai hawa nafsu itu. Mengacu ke hasil
kajiannya Ian Marshall & D. Zohar (Spiritual Capital: 2005), posisi demikian
akan memunculkan dominasi motivasi minus. Motivasi minus adalah dorongan untuk
melakukan sesuatu yang nantinya akan berakibat merugikan atau mencelakakan (diri
sendiri atau orang lain). Bentuk-bentuknya antara lain:
Penonjolan-diri (ketidakpedulian dan persaingan yang
kotor)
Kemarahan (mudah tersulut atau membabi buta)
Keserakahan (mengejar sesuatu karena merasa hampa di
dirinya)
Rasa takut (curiga dan merasa ada ancaman di luar)
Keresahan (bingung, stress, dan depresi)
Apati (pesimis, masa bodoh, cuek terhadap situasi)
Malu dan rasa bersalah (tidak menemukan makna hidup yang
lebih mendalam)
Depersonalisasi (terdekte oleh nafsu-egoisme, tidak memiliki
prinsip yang berakar pada moralitas universal)
Orang lemah sangat sulit untuk bermurah hati
karena kemurahan adalah sifat orang kuat.
(Mahatma
Gandhi)
No comments:
Post a Comment