19 Sept 2012

HINDARI MABUK SANJUNGAN



Siapa sih yang tak mau di sanjung atau di puji?...
Pastilah semua orang menginginkannya dan merasa senang apabila dirinya di sanjung dan di puji, asalkan sanjungan tersebut sesuai dan tidak membuat seseorang lupa daratan. Sanjungan yang berlebihan dapat menjerumuskan seseorang pada perbuatan tercela, sehingga ia menganggap dirinya adalah yang paling hebat, sempurna, dan paling terhormat. Dengan demikian, dia akan menilai bahwa derajat dan kehormatan seseorang itu di tentukan oleh orang yang memuji. Hanya orang bodoh dan orang yang hatinya telah di kuasai oleh luapan nafsu akan lupa daratan, karena mereka tidak mengerti arti sanjungan.

Orang yang gila sanjungan adalah orang yang kehilangan kepercayaan diri, sehingga ia membutuhkan orang lain untuk memujinya. Baginya pujian adalah segala-galanya dan nilai yang sangat berharga untuk membuktikan kalau keberadaannya ada dan di akui. Oleh sebab itu , jika apa yang ia lakukan tidak mendapat pujian, maka dia sangat kebingungan dan bersedih, padahal itu menunjukkan kelemahan dirinya. Di sinilah akhirnya ia melakukan sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan. Tingkah laku orang ini menandakan kalau dirinya (hatinya) terserang penyakit gila sanjungan. Penyakit ini sangat berbahaya dan bisa mempengaruhi terhadap perkembangan mental dan perilakunya.


Seseorang yang terjerumus olah rayuan hawa nafsu, ia akan selalu condong di puja dan di sanjung, ia selalu mengharapkan sanjungan dari apa yang di lakukan. Baginya sanjungan itu adalah arak yang di tuangkan ke dalam mulutnya. Akhirnya ia pun mabuk kepayang seolah-olah dunia telah menjadi miliknya. Ia tak sadar bahwa sesungguhnya sanjungan itu hanyalah sebuah tamparan belaka.

Bila ada seseorang yang mengkritik pekerjaannya dan membimbingnya ke jalan yang benar, ia tidak mau menerimanya, keningnya berkerut, berpaling dengan congkaknya. Inilah tipe orang yang gila kehormatan yang senang di sanjung, dan suka memuji dirinya sendiri, tetapi ia lupa terhadap belang dan kekurangan yang menumpuk di pundaknya. Bagi orang yang berakal sehat dan berhati jernih, tidak akan merasa gembira dengan sanjungan yang di tujukan kepadanya. Sanjungan itu malah menjadi beban dirinya. Ia sadar bahwa orang yang memberi sanjungan itu hanya menyebutkan kebaikan saja, sedangkan kesalahan-kesalahan yang di lakukan di tutup-tutupi.

Ia tidak suka sanjungan dan pengakuan dari orang lain karena itu akan membuatnya lupa. Ia lebih suka kritikan yang bersifat konstruktif. Karena hal itu merupakan penunjuk kekurangan dan kesalahan. Denagan demikian jiwanya akan tetap suci dari kecongkakan, bersih dari akhlak tercela. Ahli hikmah berkata:’’ yang di sebut sahabat adalah orang yang berkata jujur/ benar kepadamu, bukan orang yang selalu membenarkan kamu’’.

Orang yang gila sanjungan ini pada akhirnya mabuk pada pemujaan terhadap dirinya sendiri, ia merasa lebih baik, lebih mulia, lebih pandai, lebih terhormat dan lebih hebat dari orang lain. Ia merasa lebih sempurna dan tidak ada oang lain yang sanggup menandinginya.

Ada seorang hukama’ di tanya: ‘’Apa kebenaran yang buruk itu?
Ia menjawab: ‘’Seseorang yang memuji terhadap dirinya sendiri’’.
Saudaraku... Semoga kita terhindar dari perbuatan yang tercela ini, yang justru akan merendahkan derajat dan kehormatan kita. Mohonlah (berdo’a) kepada Allah dari segala noda yang pernah melekat dalam kalbu, Insya Allah kita akan selamat....Aamiin

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Jangan Tertipu oleh Banyakanya Amal

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak amalan sholeh dan menahan diri dari perbuatan dosa. Se...