Siapa sih yang tak mau di sanjung atau di puji?...
Pastilah semua orang menginginkannya dan merasa
senang apabila dirinya di sanjung dan di puji, asalkan sanjungan tersebut
sesuai dan tidak membuat seseorang lupa daratan. Sanjungan yang berlebihan
dapat menjerumuskan seseorang pada perbuatan tercela, sehingga ia menganggap
dirinya adalah yang paling hebat, sempurna, dan paling terhormat. Dengan
demikian, dia akan menilai bahwa derajat dan kehormatan seseorang itu di
tentukan oleh orang yang memuji. Hanya orang bodoh dan orang yang hatinya telah
di kuasai oleh luapan nafsu akan lupa daratan, karena mereka tidak mengerti
arti sanjungan.
Orang yang gila sanjungan adalah orang yang
kehilangan kepercayaan diri, sehingga ia membutuhkan orang lain untuk
memujinya. Baginya pujian adalah segala-galanya dan nilai yang sangat berharga
untuk membuktikan kalau keberadaannya ada dan di akui. Oleh sebab itu , jika
apa yang ia lakukan tidak mendapat pujian, maka dia sangat kebingungan dan
bersedih, padahal itu menunjukkan kelemahan dirinya. Di sinilah akhirnya ia
melakukan sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan. Tingkah
laku orang ini menandakan kalau dirinya (hatinya) terserang penyakit gila
sanjungan. Penyakit ini sangat berbahaya dan bisa mempengaruhi terhadap
perkembangan mental dan perilakunya.
Seseorang yang terjerumus olah rayuan hawa nafsu, ia
akan selalu condong di puja dan di sanjung, ia selalu mengharapkan sanjungan
dari apa yang di lakukan. Baginya sanjungan itu adalah arak yang di tuangkan ke
dalam mulutnya. Akhirnya ia pun mabuk kepayang seolah-olah dunia telah menjadi
miliknya. Ia tak sadar bahwa sesungguhnya sanjungan itu hanyalah sebuah
tamparan belaka.
Bila ada seseorang yang mengkritik pekerjaannya dan
membimbingnya ke jalan yang benar, ia tidak mau menerimanya, keningnya
berkerut, berpaling dengan congkaknya. Inilah tipe orang yang gila kehormatan
yang senang di sanjung, dan suka memuji dirinya sendiri, tetapi ia lupa
terhadap belang dan kekurangan yang menumpuk di pundaknya. Bagi orang yang
berakal sehat dan berhati jernih, tidak akan merasa gembira dengan sanjungan
yang di tujukan kepadanya. Sanjungan itu malah menjadi beban dirinya. Ia sadar
bahwa orang yang memberi sanjungan itu hanya menyebutkan kebaikan saja,
sedangkan kesalahan-kesalahan yang di lakukan di tutup-tutupi.
Ia tidak suka sanjungan dan pengakuan dari orang
lain karena itu akan membuatnya lupa. Ia lebih suka kritikan yang bersifat
konstruktif. Karena hal itu merupakan penunjuk kekurangan dan kesalahan.
Denagan demikian jiwanya akan tetap suci dari kecongkakan, bersih dari akhlak
tercela. Ahli hikmah berkata:’’ yang di sebut sahabat adalah orang yang berkata
jujur/ benar kepadamu, bukan orang yang selalu membenarkan kamu’’.
Orang yang gila sanjungan ini pada akhirnya mabuk
pada pemujaan terhadap dirinya sendiri, ia merasa lebih baik, lebih mulia,
lebih pandai, lebih terhormat dan lebih hebat dari orang lain. Ia merasa lebih
sempurna dan tidak ada oang lain yang sanggup menandinginya.
Ada seorang hukama’ di tanya: ‘’Apa kebenaran yang
buruk itu?
Ia menjawab: ‘’Seseorang yang memuji terhadap
dirinya sendiri’’.
Saudaraku... Semoga kita terhindar dari perbuatan
yang tercela ini, yang justru akan merendahkan derajat dan kehormatan kita.
Mohonlah (berdo’a) kepada Allah dari segala noda yang pernah melekat dalam
kalbu, Insya Allah kita akan selamat....Aamiin
No comments:
Post a Comment