Menjadi suami. Hal
yang dahulu begitu kuimpikan. Entahlah rasa apa yang sedang menggelegak dalam
jiwa. Namun kerinduan untuk segera bertemu dengan pasangan jiwaku seolah sudah
melebihi kadar kemampuan seorang lajang untuk bertahan. Dan kini aku hadir
sebagai seorang suami, impian yang mewujud, ya aku kini bersanding dengan
seorang bidadari.
Kemudian kini hidupku sedang penuh diliputi
kejutan-kejutan. Kehidupan yang semula kupahami (seolah) sebagai kebebasan
tanpa batas, kini harus benar-benar menyadari, ada hati yang harus dijaga, ada
benih cinta yang harus senantiasa disemai, dipupuk dan dijaga pertumbuhannya di
ladang jiwa.
Hadir sebagai seorang suami, menuntut diri untuk senantiasa
menghadirkan dan membaluri pasangan kita dengan kebahagiaan, karena kebahagiaan
terbesar seorang suami barangkali bukan sekedar terpenuhinya langit-langit
harapan, namun melihat senyum manis bidadari kita terukir di wajahnya senatiasa
adalah penghapus segala lara.
Di sinilah uniknya, cinta dan keinginan untuk memborong
kebahagiaan untuknya terkadang menjadi semacam pintu untuk menyakitinya. Ironi.
