(VoA-Islam) – Sejak didirikan 11 tahun yang lalu (8
Meret 2001), Utan Kayu 68H memang menjadi markas JIL dan beberapa kelompok
budaya, seni dan agama. Selain menjadi markas, Utan Kayu 68H juga menjadi
center kegiatan kaum liberal selama 11 tahun.
Dari situlah para aktivis liberal
menyebarluaskan pikiran-pikiran sesat dan nyelenehnya ke kalangan umat Islam
Indonesia. Talkshow di Radio 68H itu kerap mengangkat tema-tema yang isinya
banyak menggugat syariat Islam. Termasuk milis dan website JIL yang
banyak menggugat otentitas al-Qur’an yang menjadi kitab suci umat Islam di
seluruh dunia.
Sebagian aktivis JIL melanjutkan studi ke
luar negeri, sebut saja Ulil Abshar Abdalla melanjutkan studi ke Universitas
Harvard-Amerika Serikat dan Boston University (gelar master), Nong Darol
Mahmada ke Australia dan Luthfi Assyaukani ke Singapura. Berbagai diskusi dan
seminar digelar JIL secara terbuka kepada masyarakat dan kalangan mahasiswa.
Adalah Guntur Romli, aktivis JIL yang terlihat aktif sebagi moderator.
Dalam perjalanannya, aktivis JIL seperti
Ulil telah menghasilkan karya sesatnya, diantaranya buku berjudul:“Menyegarkan
Kembali Pemikiran Islam, Bunga Rampai Surat-surat Tersiar”. Buku ini merupakan kumpulan
surat Ulil dengan para anggota milis Islam Liberal sejak ia belajar di Boston
satu setengah tahun lamanya.
Hal serupa juga dilakukan Luthfi As
Syaukani yang giat menuliskan pemikiran liberalnya ke sejumlah media massa
Indonesia. Harian Kompas sempat memuat artikel As Syaukani yang berjudul “Dua Abad Islam Liberal” (2007). Dalam tulisan tersebut,
Luthfi menyebul JIL, lembaga yang dibentuk pada 2001 itu sebagai sebuah gerakan
pencerahan bagi umat Islam di Indonesia. Ia menganjurkan agar umat Islam
bergembira menyambut ulang tahun JIL ketika itu.
Sekilas JIL
Menurut salah satu pentolan JIL
Novriantoni, keberadaan JIL adalah untuk menindaklanjti proyek pembaruan Islam
yang sudah ada. Ia tidak menampik, keberadaan sosok Nurcholish Madjid alias Cak
Nur ini turut menginspirasi lahirnya JIL. “Kalau dulu di masa Cak Nur,
perspektifnya tentang Islam itu inklusif, kini agak melangkah lebih maju ke
depan, lebih kritis,” Novi, begitu ia disapa.
Selain Cak Nur beberapa tokoh yang turut
menginspirasi JIL adalah mendiang Gus Dur, Munawir Sadzali dan Harun Nasution.
Menurut Novi, proyek pemikiran Islam itu semacam mata rantai yang
berkesinambungan, tidak terputus.
Gagasan tentang JIL pertama kali
dibicarakan di Utan Kayu, tahun 2001 silam. Pada waktu itu, Ulil Abshar
Abdalla, Luthfi Assyaukani, Goenawan Mohamad dan lainnya berkumpul untuk
membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL). Selain markas JIL, Utan Kayu lebih dulu
dikenal sebagai tempat kongkow-kongkow, teater, penerbitan jurnal kalam, dan
kantor Radio 68H.
JIL menempatkan tempatnya di Jl. Utan
Kayu, meski tidak memiliki hubungan secara structural dengan teater maupun
radio, namun tetap memiliki visi-misi yang sama: menyebarkan faham sepilis
(sekularisme, pluralism dan liberalism).
Sebelumnya, Asia Foundation merupakan
penyokong dana terbesar JIL. Namun, kabarnya, lembaga itu tidak lagi memberikan
sokongan dana. Meski aliran dana itu terhenti, aktivis JIL masih banyak
mendapatkan dana dari donator-donatur lain, selain dari swadaya sendiri.
Novriantoni yang lulusan Gontor ini,
menegaskan kembali, tentang perlunya sekularisme, pemisahan atara wewenang agama
dan negara. Negara-negara yang masih teokratis itu adalah negara-negara yang
membawa bencana lebih besar daripada negara-negara sekular. “Khilafah adalah
utopia yang harus ditinggalkan oleh umat Islam,” kata Novi ngawur. Sementara
itu Koordinator JIL Ulil Abshar Abdalla mengatakan, sekularisme tidak
menghalangi dan memusuhi peran agama dalam ruang publik. Desastian
No comments:
Post a Comment