Dari Barat ke
Dunia Islam
Liberalisme merupakan suatu paham yang timbul dan
berkembang di dunia Barat. Paham ini mengusung paham-paham lain seperti paham
relativisme. Paham relativisme adalah paham yang menganggap kebenaran itu
relatif. Jadi tidak ada kebenaran absolut. Dari paham relativisme ini lahirlah
paham pluralisme agama. Paham ini menganggap bahwa semua agama adalah benar dan
tidak ada agama yang paling benar. Tidak ada agama yang berhak mengklaim
mempunyai kebenaran absolut.
Nilai liberalisme juga tekandung dalam paham
feminsme. Gerakan feminsme berasal dari doktrin equality (persamaan). Doktrin
persamaan ini tidak hanya mencakup bidang sosial, tapi juga bidang seksual.
Sehingga penganut faham ini sampai pada penghalalan lesbian atau homoseksual.
Karena penganut faham ini beranggapan bahwa kepuasan seksual tidak tergantung
pada lawan jenis. Sungguh ini sangat bertentangan dengan syari’at agama Islam.
Berbagai paham yang terkandung dalam ideologi
liberalisme ini akan berdampak pada pendangkalan aqidah umat Islam. Oleh karena
itu, sebagai umat Islam hendaknya waspada akan bahaya yang merupakan musuh
Islam terbesar saat ini yaitu sebuah ideologi yang berlabelkan “liberalisme”.
Liberalisme memang tak lepas dari peradaban Barat.
Periode peradaban Barat yang dianggap sangat penting dalam menimbulkan
pemikiran liberalisme adalah periode modern dan postmodern. Barat modern adalah
periode sejarah peradaban barat setelah kebangkitan masyarakat Barat dari abad
kegelapan. Pada periode modern, sains berkembang begitu pesat. Bahkan
modernitas telah memandang sains sebagai sesuatu yang sentral dalam masyarakat dan
akhirnya mengesampingkan kepercayaan agama.
Dari periode modern ini menimbulkan istilah
modernisme. Modernisme dapat diartikan sebagai gerakan yang berusaha
mendundukkan prinsip-prinsip agama di bawah nilai-nilai dan konsep peradaban
Barat dan pola berpikirnya dalam segala kehidupan. Jadi jelas pada periode modern
akar liberalisme sudah tumbuh dan bahkan menjadi suatu ideologi tersendiri dari
kehidupan masyarakat Barat.
Postmodern hadir sebagai kelanjutan masa modern. Dalam
masa ini masih bepijak pada pemikiran modernisme. Akan tetapi, yang menjadi
corak sistem postmodernisme ini adalah menghilangkan pemikiran tentang
metafisika atau bisa disebut sistem yang tanpa pemikiran metafisis.
Sejalan dengan perkembangan sains dan pemikiran,
pada kedua periode itu lahirlah ideology liberalisme. Trend liberalisme bermula
dari upaya pembebasan individu di bidang ekonomi dan politik. Adapun maksud
pembebasan adalah mengurangi atau menghilangkan campur tangan penguasa
(pemerintah) dalam mempengaruhi hak ekonomi dan politik rakyat (masyarakat). Selain
kedua trend liberalisme di atas, masyarakat Barat terobsesi juga untuk
membebaskan diri mereka dalam bidang yang lebih luas, yaitu bidang intelektual,
keagamaan, supernatural dan bahkan Tuhan.
Pada bidang keagamaan, upaya pembebasan diri dari
agama dan doktrin-doktrinnya melalui liberalisasi pemikiran sangat mengancam
agama-agama di dunia. Kemunculan kaum liberal di Barat sebenarnya tidak lepas
dari problematika Kristen yang menjadi agama terbesar di Barat. Problematika
Kristen yang menjadi sebab munculnya liberalisasi pemikiran keagamaan adalah: (1)
problema sejarah Kristen yang penuh dengan konflik, (2) problema teks Bibel
yang penuh dengan kontradiktif dan (3) problema teologi Kristen yang tidak
jelas dan tidak rasional.
Berkembangnya paham liberalisme di Barat rupanya
ingin dikembangkan juga ke masyarakat Timur dan masyarakat Islam. Ada berbagai
sarana atau alat yang mereka gunakan dalam menyebarkan ide liberalisme ini. Tak
ketinggalan pula dana yang melimpah juga mereka sediakan dalam upaya
meliberalisasi pemikiran orang Timur. Missionaris, orientalis dan kolonialis
adalah tiga agen utama yang saling bahu membahu dalam penyebaran ideology pemikiran
Barat ke dunia Timur dan khususnya dunia Islam.
Islam dijadikan sasaran utama oleh kaum
missionaris-orientalis dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah seruan
kritik terhadap al-Qur’an. Seruan untuk mengkritik teks al-Qur’an oleh
missionaris-orientalis ini dilatarbelakangi oleh kekecewaan orang Kristen dan
Yahudi terhadap kitab suci mereka dan disebabkan oleh kecemburuan mereka
terhadap umat Islam dan kitab suci al-Qur’an. Sudah menjadi rahasia umum bahwa
Bibel sekarang sudah tidak asli lagi. Ketidakaslian itu karena banyaknya campur
tangan manusia di dalamnya, sehingga cendikiawan Kristen terpaksa menerima
kenyataan pahit ini.
Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya
muslim tidak lepas dari serangan kaum liberal Barat. Dengan didukung dana yang
besar mereka sengaja ingin merombak pandangan umat Islam Indonesia dengan
nilai-nilai liberal. The Asia Foundation (TAF) salah satu pendonor dana kepada
LSM-LSM atau organisasi lain di Indonesia guna memperlancar program mereka dalam
menanamkan nilai-nilai liberalisme. Selain itu, The Asia Foundation bersama
USAID ( US Agency for International Development) juga mempunyai program
reformasi pendidikan di seluruh Indonesia baik pendidikan formal maupun
informal, termasuk reformasi pendidikan di pesantren. Kaum muslim di Indonesia
maupun di dunia mempunyai tantangan berat dalam melawan liberalisme ini.
Kesadaran para musuh Islam bahwa Islam tidak dapat ditundukkan dengan perang
fisik semata membuat mereka bersepakat dalam satu strategi yang terkenal dengan
ghazwul fikri (perang pemikiran).
Mereka melancarkan perang ideologi dengan mengusung
liberalisme kepada umat Islam. Nilai-nilai liberalisme semakin gencar dilancarkan
kepada umat Islam. Di Indonesia sendiri banyak dari kalangan cendikiawan muslim
baik yang berstatus mahasiswa, dosen atau aktifis yang telah tersusupi paham
liberalisme.
Bahaya Dari Luar
dan Dalam
Bahaya yang ditimbulkan liberalisme pemikiran
keagamaan bukanlah satu hal yang kecil. Liberalisme dapat membuat orang tidak
yakin dengan agamanya sendiri. Bahkan paham liberalisme membuat ketidakyakinan
adanya Tuhan yang berkuasa.
Liberalisme di Barat bermula dari liberalisme pada
bidang sosial dan politik. Liberalisme social dan politik dalam peradaban Barat
telah memarjilnalkan agama atau memisahkan agama dari urusan sosial dan politik
secara perlahan-lahan. Kemudian agama dibawa tunduk di bawah kepentingan
politik dan humanisme.
Ketika pandangan Barat ini gencar diekspor ke
negara-negara Islam dan tentunya dengan alokasi dana yang banyak, tak sedikit
cendikiawan muslim yang mengimpor pemikiran Barat ini. Bahkan mereka dengan
membabi buta menawarkan konsep ke semua elemen masyarakat. Akhirnya banyak dari
mereka yang berfikir “agar maju, umat Islam harus meniru Barat”.
Di Indonesia sudah banyak aktifis baik di dalam
kampus maupun di luar kampus yang mengadopsi pemikiran Barat. Dengan jaringan
yang terorganisir mereka aktif menyebarkan ide-ide liberalisme. Sarana yang
mereka tempuh antara lain melalui penerbitan buku-buku yang mengusung pemikiran
mereka. Mereka menerbitkan buku-buku baik yang pengarangnya dari dalam negeri
maupun terjemahan karya tokoh-tokoh liberal dunia. Dengan penerbitan buku-buku
tersebut, penyebaran ideologi liberalisme dapat disebarkan ke masyarakat luas. Sedangkan
dalam pendidikan formal, mereka sudah menyusupkan ide-ide mereka ke dalam kurikulum,
terutama pada perguruan tinggi yang berbasis Islam.
Sungguh sangat kompleks tantangan pemikiran Islam
sekarang. Musuh tidak hanya datang dari luar, tetapi dari kalangan umat Islam
sendiri. Bahkan kaum intelektual muslim sudah banyak yang menerima pandangan
Barat ini sebagai ideologinya. Mereka yang sudah berpandangan liberal sengaja
mengacak-acak tatanan pemikiran umat Islam dengan meliberalisasi pemikirannya.
Sudah menjadi keharusan bagi umat muslim untuk tidak
diam dalam menghadapi arus liberalisasi pemikiran ini. Dalam merespon serangan
liberalisasi pemikiran, setidaknya setiap individu muslim berusaha membentengi
diri dari pemikiran liberal. Sehingga setiap muslim tidak mudah tergerus arus
liberalisme. Dengan demikian, aqidah umat Islam akan selamat dari pengikisan
yang ditimbulkan oleh pandangan liberalisme tersebut.
Dari berbagai Sumber.
No comments:
Post a Comment