31 Jan 2014

Mampukah Kita Bersyukur ?


Diantara sifat orang beriman adalah ketika mendapat berbagai kenikmatan, dia bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut yaitu Allah. Dia ucapkan: "Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah" dan ucapan yang sejenisnya. 

Memang arti syukur sendiri adalah memuji kepada Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan kebaikan. Tapi cukupkah dengan hanya memuji melalui lisan semata? 

Sebenarnya tidak cukup hanya dengan itu, karena betapa banyaknya orang yang memuji Allah dengan lisan-lisan mereka ketika mendapatkan nikmat tetapi bersamaan dengan itu tetap bergelimang dalam kemaksiatan. 

Akan tetapi syukur itu mempunyai rukun-rukunnya yaitu tiga rukun. Dimana syukurnya seorang hamba berporos pada tiga rukun tersebut –yang tidak akan dinamakan syukur kecuali dengan terkumpul ketiga-tiganya- yaitu: pertama: mengakui nikmat tersebut dengan batin (di dalam hati); kedua: membicarakannya secara zhahir (yaitu lisan kita memuji Dzat yang telah memberikan nikmat dan menyebut-nyebut nikmat tersebut); dan ketiga: meminta bantuan dengan nikmat tersebut didalam melaksanakan ketaatan kepada Allah (artinya menggunakan nikmat tersebut untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah). 

SIAPA YANG HARUS DICINTAI

Manusia dalam loyalitas dan perlepasan diri terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, orang yang dicintai dengan kecintaan yang murni dan tidak dicampuri dengan permusuhan, mereka itulah orang-orang beriman yang ikhlas, yang terdiri dari para nabi, shiddiqin (orang-orang yang selalu membenarkan), para syuhada' (orang-orang yang mati dalam peperangan/mati syahid), dan orang-orang yang shalih, yang berada di barisan paling depan di antara mereka adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka kecintaan kepada beliau haruslah lebih besar dibanding dengan kecintaan kepada diri sendiri, anak, orang tua dan seluruh manusia, kemudian (kecintaan setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) kepada isteri-isteri beliau Ummahatul Mukminin, Ahli Baitnya (keluarganya) yang baik, Sahabat-sahabat beliau yang mulia, khususnya para Khulafaur Rasyidin, sepuluh orang Sahabat (yang dijanjikan bagi mereka jannah), kaum Muhajirin, kaum Anshar, Ahli Badar, Ahlu Baitur Ridwan (yang ikut Bai'at Ridwan), kemudian seluruh sahabat, para Tabi'in, dan yang hidup pada masa yang diutamakan oleh Allah dan para Salaf yang shalih serta imamnya seperti empat orang imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad Rahimahullah).

Allah Ta'ala berfirman: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo'a: Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (Al-Hasyr: 10)

15 Jan 2014

Kedzaliman itu Sementara Saja


Di sepertiga malam yang terakhir, dikala kami masih asyik dengan mimpi-mimpi, teman saya bangun. Ia mengambil wudhu, kemudian berdiri tegak menghadap Yang Maha Rahman. Lama ia berdiri dan tidak juga ruku atau sujud. Tiba-tiba ia salam. Saya jadi terheran-heran. Shalat mayit kah ia? Atau shalat ghaib? Tapi untuk siapa?

Esok paginya, ia bercerita. Bahwa ia memang telah shalat mayit tadi malam. Khusus ditujukan pada sang majikan. Agar cepat-cepat mati saja. Sebab manusia semacam itu sudah tidak layak lagi hidup bersama mahluk yang bernama manusia. Tuturnya pada saya.

Sedang teman saya yang satu lagi sibuk dengan pekerjaan lain. Setiap petang, ketika majikannya sudah masuk ke rumah, ia cepat-cepat ke tempat jemuran pakaian. Siapa tahu ada celana dalam atau pakaian lain milik majikannya, yang tertinggal di sana. Ia akan mengambilnya. Kemudian ia akan beri mantra-mantra yang katanya dari seorang dukun santet. Biar majikannya lebih punya kasih sayang terhadap pekerjanya.

Kemudian teman saya yang lain juga tidak kalah usahanya dalam menaklukan bos-nya. Ia sedang minta informasi pada teman-temannya yang kerja di bangunan luntuk mencarikan telur ayam kampung yang masih segar. Ia akan menuliskan di seluruh bulatan telur itu dengan tulisan arab gundul, alias tanpa kharakat. Intinya sama, agar si majikan jangan terus menerus berwatak seperti singa kelaparan.

6 Jan 2014

Sudah Sedemikian Keraskah Hati Ini?


Di dalam perjalanan menuju kantor, saya terlelap menikmati sejuknya udara dalam bis. Tak terasa hingga kondektur bis membangunkanku untuk menagih ongkos, dengan mataku yang masih merejap kuulurkan sejumlah uang untuk membayar ongkos bis. Dan … samar mataku menangkap sosok seorang ibu setengah baya berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Tapi, rasa kantuk dan lelah ku mengalahkan niat baik untuk memberikan tempat duduk untuk ibu tersebut. 

Turun dari bis, baru lah sisi baik hati ini bergumam, “Andai saya berikan tempat duduk kepada ibu tadi, mungkin pagi hari ini keberkahan bisa kuraih”. “Siapa tahu ridha Allah untuk ku di hari ini dari doa dan terima kasih ibu itu jika saja kuberikan tempat dudukku…” Ah, kenapa baru kemudian diri ini menyesal? 

Semalam dalam perjalanan pulang dengan kereta api, duduk di hadapan saya seorang bapak berusia 40-an. Lewat seorang penjual air minum kemasan, dan ia segera menyetopnya untuk membeli. Tangan kirinya memegang segelas air minum kemasan sementara tangan satunya merogoh-rogoh kantongnya. Sesaat ia memperhatikan beberapa keping yang ia mampu raih dari bagian terdalam kantongnya, ternyata … ia mengembalikan segelas air minum kemasan yang sudah digenggamnya kepada penjual air sambil menahan rasa hausnya. 

4 Jan 2014

Andai Surga Dan Neraka Tidak Ada


KotaSantri.com - Aku masih duduk di sajadahku ketika orang-orang telah meninggalkan masjid ini, pun ketika beberapa lampu mulai dimatikan. Ku tatap beberapa ayat Al-Qur'an yang tertulis rapi menghias ruang dalam masjid. Ada getaran halus dihatiku yang entah darimana asalnya tiap kali aku menatap lingkaran kecil di dinding yang bertuliskan 'Allah'. Aku duduk bersimpuh, kutatap nama-Nya dan aku mulai merenungi diriku.

Tentang apa yang kuperbuat, apa yang kukatakan, tentang apa yang kupikirkan, dan tentang apa yang kurasakan. Tak dapat lagi kutahan derai air mata yang mulai merembes dipipiku, aku sendiri bingung kenapa?? Yang kutahu saat ini aku hanya ingin menangis, menangis dan terus menangis. 

Aku mulai merasakan betapa hinanya aku di hadapanNya, aku yang masih memiliki berjuta kesombongan, yang masih riya' di hadapan manusia, yang masih mendustakan nikmatNya dan entah apa lagi yang kupikirkan. Aku benar-benar hina dihadapanNya. 

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku kemari? Mengapa aku bersujud padaNya? Mengapa aku meninggalkan laranganNya? Dan mengapa aku berusaha untuk melakukan perintahNya? Adakah karena aku mencintai Nya? Atau karena yang lainnya??? 

Featured Post

Jangan Tertipu oleh Banyakanya Amal

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak amalan sholeh dan menahan diri dari perbuatan dosa. Se...