Diantara sifat orang beriman adalah ketika mendapat
berbagai kenikmatan, dia bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan
nikmat tersebut yaitu Allah. Dia ucapkan: "Alhamdulillaah, segala puji
bagi Allah" dan ucapan yang sejenisnya.
Memang arti syukur sendiri adalah memuji kepada Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan kebaikan. Tapi cukupkah dengan hanya memuji melalui lisan semata?
Sebenarnya tidak cukup hanya dengan itu, karena betapa banyaknya orang
yang memuji Allah dengan lisan-lisan mereka ketika mendapatkan nikmat
tetapi bersamaan dengan itu tetap bergelimang dalam kemaksiatan.
Akan tetapi syukur itu mempunyai rukun-rukunnya yaitu tiga rukun. Dimana
syukurnya seorang hamba berporos pada tiga rukun tersebut –yang tidak
akan dinamakan syukur kecuali dengan terkumpul ketiga-tiganya- yaitu:
pertama: mengakui nikmat tersebut dengan batin (di dalam hati); kedua:
membicarakannya secara zhahir (yaitu lisan kita memuji Dzat yang telah
memberikan nikmat dan menyebut-nyebut nikmat tersebut); dan ketiga:
meminta bantuan dengan nikmat tersebut didalam melaksanakan ketaatan
kepada Allah (artinya menggunakan nikmat tersebut untuk melaksanakan
ketaatan kepada Allah).