Luka pedih umat yang kebas. Umat menderita kerana hilangnya tonggak penyatu kerajaan, wakil kesatuan kekuatan. Malang itu bertimpa-timpa dan luka itu semakin parah. Bukan sahaja tidak diubati malah makin melebar. Bertambah pedih hakikat apabila luka pedih itu terasa kebas oleh ummatal Quran, umat Islam yang tidak terasa apa-apa apabila mercu lambang Islam itu ranap dimamah musuh-musuh Islam, tidak kira Yahudi mahupun munafik. Luka itu terasa lagi kebasnya apabila tubuh itu diratah tapi tuannya masih lagi bergembira! Luka itu dibadan yang disuntik pelali hedonisme dan kejahilan, racun syirik dan taklid, sedangkan penawar ada di rak-rak rumah. Ayuh bangkitlah umatku! Masukkan perhiasan ayat-ayat itu dalam jiwamu!
3 Mac 1924 – Khilafah dihancurkan 3 Mac 2000 -76
tahun umat Islam menderita kerana tiada Khilafah Pada 3 Mac (Maret) 1924
Khilafah (sistem pemerintahan (Islam) secara rasmi telah dihapuskan oleh
Mustafa Kamal Ataturk di Turki. Mustafa Kamal, agen Britain, telah bertindak
menghapuskan Khilafah sesuai dengan arahan (instruksi) yang telah diberikan
oleh negara-negara Barat kepadanya. Khilafah inilah yang telah menyatukan umat
Islam seluruh dunia dari berbagai bangsa dan berlainan kedudukan geografi dalam
sebuah negara, seorang pemimpin, sebuah bendera dan satu undang-undang.
Malangnya negara-negara Barat telah menanamkan
ideologi Barat seperti demokrasi, liberalisme, komunisme dan sosialisme
sehingga mengakibatkan umat Islam meninggalkan Islam. Mereka juga menanam
semangat nasionalisme yang mengakibatkan umat Islam berpecah kepada lebih dari
50 buah negara yang kita saksikan sehingga hari ini. Tidak ada kepimpinan
alternatif pada hari ini walaupun beberapa buah negara mendakwa bahwa mereka
adalah negara Islam seperti Sudan, Iran, Arab Saudi dan Afghanistan.
Negara-negara tersebut mencampurkan Islam dengan sistems-sistem lain tetapi
malangnya mengaku mereka melaksanakan Islam dengan sempurna. Janganlah umat
Islam patah semangat. Ingatlah Allah SWT akan membantu mereka yang mengikut
perintahNya sebagaimana yang telah Allah SWT janjikan dalam Quran. Rasulullah
SAW juga telah berjanji bahwa Khilafah akan muncul semula menyelamatkan umat
Islam dari masalah yang mereka hadapi hari ini.
Khilafah
Khilafah adalah kepimpinan umum bagi seluruh kaum
muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syari’at Islam dan mengembang
da’wah ke segenap penjuru dunia. Kata lain dari Khilafah adalah Imamah. Imamah
dan Khilafah mempunyai arti yang sama. Banyak hadits sahih yang menunjukkan
bahwa dua kata itu memiliki konotasi yang sama. Bahkan tidak ada satu nas pun,
baik dalam Al-Quran maupun Al-Hadits yang menyebutkan kedua istilah itu dengan
makna yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Kaum muslimin
tidak harus terikat dengan salah satu dari keduanya, apakah istilah khilafah
atau pun imamah. Sebab yang menjadi pegangan dalam hal ini adalah makna yang
ditunjukkan oleh kedua istilah itu.
Menegakkan khilafah hukumnya fardu (wajib) bagi
seluruh kaum muslimin. Sebagaimana telah dimaklumi bahwa melaksanakan suatu
kewajipan yang telah dibebankan oleh Allah SWT kepada kaum muslimin adalah
suatu keharusan yang menuntut pelaksanaan tanpa tawar menawar lagi dan tidak
pula ada kompromi. Demikianlah adanya dengan kewajipan menegakkan khilafah.
Melalaikannya berarti merupakan salah satu perbuatan maksiat terbesar dan Allah
akan mengazab para pelakunya dengan siksaan yang sangat pedih. Dalil-dalil
mengenai kewajipan menegakkan khilafah bagi seluruh kaum muslimin termaktub dalam
Quran, Sunnah dan Ijma’ As-Sahabat.
Dalam Quran, Allah SWT telah memerintahkan
Rasulullah SAW agar menegakkan hukum di antara kaum muslimin dengan hukum yang
telah diturunkanNya. Dan perintah itu dalam bentuk yang tegas (pasti). Allah
SWT berfirman, ‘ Maka putuskanlah perkara di antara manusia dengan
apa yang telah diturunkan Allah dan janganlah engkau menuruti hawa nafsu mereka
dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu’ (al-Maidah, 48)
‘ (Dan) Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara
mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti
hawa nafsu mereka. Dan waspadalah engkau terhadap fitnah mereka yang hendak
memalingkan dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.’
(Al-Maidah, 49)
Firman Allah SWT yang ditujukan kepada RasulNya juga
merupakan seruan untuk ummatnya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa
firman itu dikhususkan untuk beliau. Sementara pada ayat ini tidak ditemukan
dalil yang mengkhususkannya kepada Nabi, sehingga menjadi seruan yang juga
ditujukan kepada kaum muslimin untuk mewujudkan pemerintahan. Tidak ada arti
lain dalam mengangkat khilafah kecuali mewujudkan pemerintahan.
Sambungan Dari buku yang dikarang oleh Syeikh Muhammad Ismail,
seorang ulamak Timur Tengah
(1) Kewajipan mendirikan sistem pemerintahan Islam.
(2) Adalah berdosa jika tidak berusaha menegakkan
Negara Islam.
(3) Khalifah (Imam) adalah pelindung bagi umat Islam
Allah SWT juga memerintahkan agar kaum muslimin
mentaati ‘Ulil Amri’ iaitu penguasa. Perintah ini juga termasuk di antara yang
menunjukkan kewajiban adanya penguasa atas kaum muslimin. Allah SWT berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah RasulNya, dan ulil amri dari kamu sekalian.’ (An-Nisa, 59)
Tentu saja Allah SWT tidak memerintahkan kaum
muslimin untuk mentaati seseorang yang tidak berwujud. Sehingga menjadi jelas
bahwa mewujudkan ulil amri adalah suatu yang wajib. Tatkala Allah memberi
perintah untuk mentaati ulil amri, berarti pula perintah untuk mewujudkannya.
Adanya ulil amri menyebabkan terlaksananya kewajiban menegakkan hukum syara’,
sedangkan mengabaikan terwujudnya ulil amri menyebabkan tersia-sianya hukum
syara’. Jadi mewujudkan ulil amri itu adalah wajib, karena kalau tidak
diwujudkan akan menyebabkan terlanggarnya perkara yang haram yaitu
menyia-nyiakan hukum syara’. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah hadits yang
diriwayatkan oleh Nafi’ yang berkata: Umar radiyallahu ‘anhu telah berkata
kepadaku: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘ Siapa saja yang melepas tangannya dari ketaatan
kepada Allah, nescaya ia akan berjumpa Allah di hari kiamat tanpa memiliki
hujjah. Dan siapa saja yang mati sedangkan di pundaknya (lehernya) tidak ada
bai’at (oath of allegiance, ketaatan kepada Khalifah), maka matinya adalah
seperti mati jahiliyah.’
Nabi SAW mewajibkan adanya bai’at pada pundak setiap
muslim dan mensifati orang yang mati dalam keadaan tidak berbai’at seperti
matinya orang-orang jahiliyah. Padahal bai’at hanya dapat diberikan kepada
Khalifah bukan kepada yang lain. Rasulullah SAW telah mewajibkan atas setiap
muslim agar di pundaknya selalu ada bai’at kepada seorang Khalifah, namun tidak
mewajibkan setiap muslim untuk melakukan proses bai’at kepada Khalifah secara
langsung. Yang wajib adalah adanya bai’at pada pundak setiap muslim, yaitu
adanya seorang Khalifah yang mempunyai hak bai’at dari setiap muslim.
Jadi keberadaan (kewujudan) Khalifahlah yang akan
memenuhi tuntutan hukum adanya bai’at di atas pundak setiap muslim. Oleh kerana
itu, hadits di atas adalah dalil kewajipan mengangkat seorang Khalifah dan
bukan merupakan dalil kewajipan mengangkat berbai’at. Sebab, dalam hadits
tersebut yang dicela oleh Rasulullah SAW adalah keadaan tidak adanya bai’at
pada pundak setiap muslim hingga ia mati, bukan kerana tidak melaksanakan
bai’at.
Imam Muslim telah meriwayatkan dari Al-A’raj dari
Abi Hurairah dari Nabi SAW bersabda, ‘Sesungguhnya seorang Imam (Khalifah)
adalah laksana perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan
menjadikannya sebagai pelindung (bagi dirinya).’
‘Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abi Hazim yang
berkata, ‘Aku telah mengikuti majelis Abi Hurairah selama 5 tahun. Pernah aku
mendengarnya menyampaikan hadis dari Rasulullah SAW yang bersabda, ‘Dahulu,
Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap
kali seorang Nabi meninggal, digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya tidak
akan ada Nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan ada banyak Khalifah”. Para sahabat
bertanya, ‘Apakah yang engkau perintahkan kepada kami” Beliau menjawab,
‘Penuhilah bai’at yang pertama, dan yang pertama itu saja. Berikanlah kepada
mereka haknyak kerana Allah nanti akan menuntut pertanggungjawaban mereka
tentang rakyat yang dibebankan urusannya kepada mereka’.
Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa
saja yang membenci sesuatu dari amirnya hendaknya ia tetap bersabar. Sebab,
siapa saja yang keluar (memberontak) dari penguasa sejengkal saja kemudian mati
dalam keadaan demikian, maka matinya adalah seperti mati jahiliyah.’
Hadis-hadis ini di antaranya merupakan pemberitahuan
(ikhbar) dari Rasulullah SAW bahawa akan ada penguasa-penguasa yang memerintah
kaum muslimin, dan bahwa seorang Khalifah adalah laksana perisai.
Pernyataan Rasulullah SAW bahwa seorang imam itu
laksana perisai menunjukkan pemberitahuan tentang adanya makna functional dari
keberadaan (kewujudan) seorang Imam (Khalifah) dan ini merupakan suatu
tuntutan. Sebab, setiap pemberitahuan yang berasal dari Allah dan RasulNya,
apabila mengandungi celaan (adz dzamm) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk
meninggalkan atau merupakan larangan; dan apabila mengandung pujian (al mad-hu)
maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk melakukan perbuatan. Dan kalau
pelaksanaan perbuatan yang dituntut itu menyebabkan tegaknya hukum syara’ atau
jika ditinggalkan mengakibatkan terbengkalainya hukum syara’, maka tuntutan
untuk melaksanakan perbuatan itu berarti sifat tegas.

No comments:
Post a Comment