Oleh:
Ustadz Ahmad Syarwat, Lc
Ada
begitu banyak analisa para pemikir dan pengamat tentang sebab-sebab jatuhnya
khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924. Baik yang bersifat lebih teknis maupun
sebab-sebab yang bersifat lebih umum.
Sebab-sebab
secara teknis kita serahkan kepada para ahli sejarah, terutama sejarah Turki
sendiri. Sedangkan yang akan kita bahas di sini adalah sebab-sebab secara
umumnya saja.
A.
Sebab Ekternal
Sudah
kita ketahui bersama bahwa Khilafah Turki Utsmani kalah pada perang dunia
pertama. Sebagai negara yang kalah perang, maka negeri itu dengan mudah
ditindas, dirampok dan juga diperebutkan wilyahnya oleh para pemangsa dan
lawan-lawannya.
Sampai
terjadi penghinaan yang begitu besar, di mana bangsa Turki yang secara
geografis memang penduduk Eropa dilecehkan dengan ungkapan “The Sickman in
Europe.” Bahkan kata “turkey” dalam ungkapan mereka merupakan pelecehan, yang
artinya ayam kalkun.
Pahlawan
dan tokoh muslim Turki pu tidak luput dari penghinaan. Salah satunya adalah
Barbarossa si Janggut Merah. Di dalam cerita Asterik, tokoh Barbarosssa muncul
sebagai bajak laut yang bodoh. Padahal beliau adalah pahlawan Islam di masanya
dan pelaut kafir Eropa sangat takut dengan angkatan perangnya.
B.
Sebab Internal
Penjajahan
barat terhadap Turki semakin menusuk tatkala mereka berhasil meraih generasi
muda Turki dengan pendidikan ala barat. Tentu saja semua itu untuk mendapatkan
satu tujuan, yaitu sekulerisasi selapis generasi. Maka lahirlah kemudian
generasi baru yang anti Islam, Islamo-phobia, sekuler, liberal dan berotak
barat.
Mereka
inilah yang kemudian didukung oleh Eropa untuk menumbangkan lembaga khilafah
Islamiyah. Tercatat tokohnya adalah Mustafa Kemal Ataturk yang terlaknat. Sosok
ini telah berhasil menumbangkan khilafah pada tahun 1924 lewat gerakan Turki
Muda.
Sayangnya,
hujaman belati mematikan ini justru masuk ke dalam pelajaran sejarah di negeri
kita sebagai kebangkitan, bukan sebagai kejahatan. Rupanya, jaring-jaring kerja
bangsa-bangsa kafir itu sedemikian luas, sehingga sosok Kemal Ataturk yang
zhalim itu, justru muncul dalam buku sejarah kita sebagai pahlawan.
Padahal
Kemal telah melakukan dosa yang bahkan Iblis pun tidak pernah melakukannya.
Yaitu menumbangkan satu rangkaian khilafah Islamiyah yang terakhir. Padahal
belum pernah sebelumnya umat Islam di dunia hidup tanpa naungan khilafah.
Sebab
khilafah sudah ada sejak zaman Rasululullah SAW hidup, yakni sejak 15 abad yang
lalu. Selama itu, umat Islam belum pernah hidup tanpa ada khilafah. Iblis dan
para jin tidak pernah mampu menumbangkannya. Tiba-tiba seorang sekuleris yang
nota bene agamanya masih Islam, malah menumbangkannya. Walhasil, sejak jatuhnya
khilafah Turki, umat Islam masuk dalam bid’ah kubro. Sebuah bid’ah teramat
besar yang melebihi semua jenis bid’ah yang pernah ada. Dan tentunya sangat
dibenci dan dimurkai. Sebuah bid’ah berupa umat Islam hidup tanpa naungan
khilafah.
Urutan
Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
Dengan
wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 623 M, umat Islam segera membaiat Abu Bakar
ra sebagai pengganti beliau. Istilah pengganti ini dalam bahasa Arab adalah
khalifah. Lengkapnya, khalifatu rasulillah atau pengganti Rasulullah. Maksudnya
bukan menggantikan posisi kenabian Muhammad SAW, melainkan posisi beliau SAW
sebagai pemimpin tertinggi umat Islam. Sebab nabi kita itu selain sebagi nabi,
juga berperan sebagai pemimpin tertinggi umat Islam.
Selain
itu, ada juga sebutan lain buat posisi tertinggi umat Islam sedunia, yaitu
istilah Amirul Mukminin. Artinya adalah pemimpin umat Islam.
1.
Khilafah Rasyidah
Khilafah
Rasidah berdiri tepat di hari wafatnya Rasululllah SAW. Terdiri dari 4 orang
atau 5 orang shahabat nabi yang menjadi khalifah secara bergantian. Mereka
adalah:
Abu
Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M)
Umar
bin Khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M)
‘Utsman
bin ‘Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M)
Ali
bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M) dan
Al-Hasan
bin ‘Ali ra (tahun 40 H/661 M)
Masa
berlakunya selama kurang lebih 30 tahun. Disebut juga sebagai khilafah rasyidah
karena posisi mereka sebagai shahabat nabi yang mendapat petunjuk. Dan memang
ada pesan dari nabi untuk mentaati para khalifah rasyidah ini.
2.
Khilafah Bani Umayyah
Khilafah
ini berpusat di Syiria, tepatnya di kota Damaskus. Berdiri untuk masa waktu
sekitar 90 tahun atau tepatnya 89 tahun, setelah era khulafa ar-rasyidin
selesai. Khalifah pertama adalah Mu’awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah
Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Adapun masa kekuasaan mereka sebagai
berikut:
Mu’awiyyah
bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M)
Yazid
bin Mu’awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M)
Mu’awiyah
bin Yazid (tahun 64-65 H/683-684 M)
Marwan
bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M)
Abdul
Malik bin Marwan (tahun 66-86 H/685-705 M)
Walid
bin ‘Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M)
Sulaiman
bin ‘Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M)
Umar
bin ‘Abdul ‘Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M)
Yazid
bin ‘Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724M)
Hisyam
bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M)
Walid
bin Yazid (tahun 126 H/744 M)
Yazid
bin Walid (tahun 127 H/744 M)
Ibrahim
bin Walid (tahun 127 H/744 M)
Marwan
bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M)
Sebenarnya
khilafah Bani Ummayah ini punya perpanjangan silsilah, sebab satu dari
keturunan mereka ada yang menyeberang ke semenanjung Iberia dan masuk ke
Spanyol. Di Spanyol mereka kemudian mendirikan khilafah tersendiri yang
terlepas dari khilafah besar Bani Abbasiyah.
3.
Khilfah Bani Abbasiyah
Kemudian
kekhilafahan beralih ke tangan Bani ‘Abasiyah yang berpusat di Baghdad. Total
masa berlaku khilafah ini sekitar 446 tahun. Khalifah pertama adalah Abu
al-’Abbas al-Safaah. Sedangkan khalifah terakhirnya Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah.
Secara
rinci masa kekuasaan mereka sebagai berikut:
Abul
‘Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)
Abu
Ja’far al-Manshur (tahun 137-159 H/754-775 M)
Al-Mahdi
(tahun 159-169 H/775-785 M)
Al-Hadi
(tahun 169-170 H/785-786 M)
Harun
al-Rasyid (tahun 170-194 H/786- 9 M)
Al-Amiin
(tahun 194-198 H/809-813 M)
Al-Ma’mun
(tahun 198-217 H/813-833 M)
Al-Mu’tashim
Billah (tahun 618-228 H/833-842M)
Al-Watsiq
Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)
Al-Mutawakil
‘Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)
Al-Muntashir
Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)
Al-Musta’in
Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)
Al-Mu’taz
Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)
Al-Muhtadi
Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)
Al-Mu’tamad
‘Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)
Al-Mu’tadla
Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)
Al-Muktafi
Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)
Al-Muqtadir
Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)
Al-Qahir
Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)
Al-Radli
Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)
Al-Muttaqi
Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)
Al-Musaktafi
al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)
Al-Muthi’
Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)
Al-Tha`i’
Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)
Al-Qadir
Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)
Al-Qa`im
Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)
Al-Mu’tadi
Bi Amrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)
Al-Mustadhhir
Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)
Al-Mustarsyid
Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)
Al-Rasyid
Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)
Al-Muqtafi
Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160 M)
Al-Mustanjid
Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)
Al-Mustadli`u
Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)
Al-Naashir
Lidinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)
Al-Dhahir
Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)
Al-Mustanshir
Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)
Al-Musta’shim
Billah (tahun 640-656 H/1242-1258 M)
Al-Mustanshir
Billah II (tahun 660-661 H/1261-1262 M)
Al-Haakim
Biamrillah I (tahun 661-701 H/1262-1302 M)
Al-Mustakfi
Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M)
Al-Watsiq
Billah I (tahun 732-742 H/1334-1343 M)
Al-Haakim
Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M)
Al-Mu’tadlid
Billah I (753-763 H/1354-1364 M)
Al-Mutawakil
‘Ala al-Allah I (th. 763-785 H/1364-1386 M)
Al-Watsir
Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M)
Al-Musta’shim
(tahun 788-791 H/1389-1392 M)
Al-Mutawakil
‘Ala al-Allah II (th. 791- 8 H/1392-1409 M)
Al-Musta’in
Billah (tahun 8-815 H/1409-1416 M)
Al-Mu’tadlid
Billah II (tahun 815-845 H/1416- 1446 M)
Al-Mustakfi
Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M)
Al-Qa`im
Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M)
Al-Mustanjid
Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M)
Al-Mutawakil
‘Ala al-Allah III (th 884-893 H/1485-1494 M)
Al-Mutamasik
Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M)
Al-Mutawakil
‘Ala al-Allah IV (th 914-918 H/1515-1517 M)
Khilafah
Bani Abbasiyah dihancurkan oleh pasukan Tartar (Mongol), sehingga umat Islam
sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa adanya khalifah. Namun kurun waktnya hanya
terpaut 3 tahun setengah saja dan segera berdiri khilafah Utsmaniyah.
4.
Khilafah Bani Utsmaniyyah
Khilafah
Bani Utsmaniyyah tercatat memiliki30 orang khalifah, yang berlangsung mulai
dari abad 10 Hijriyah atau abad ke enam belas Masehi. Nama-nama mereka sebagai
berikut:
Salim
I (tahun 918-926 H/1517-1520 M)
Sulaiman
al-Qanuni (tahun 926-974 H/1520-1566 M)
Salim
II (tahun 974-982 H/1566-1574 M)
Murad
III (tahun 982-1003 H/1574-1595 M)
Muhammad
III (tahun 1003-1012 H/1595-1603 M)
Ahmad
I (tahun 1012-1026 H/1603-1617 M)
Mushthafa
I (tahun 1026-1027 H/1617-1618 M)
‘Utsman
II (tahun 1027-1031 H/1618-1622 M)
Mushthafa
I (tahun 1031-1032 H/1622-1623 M)
Murad
IV (tahun 1032-1049 H/1623-1640 M)
Ibrahim
I (tahun 1049-1058 H/1640-1648 M)
Muhammad
IV (tahun 1058-1099 H/1648-1687 M)
Sulaiman
II (tahun 1099-1102 H/1687-1691 M)
Ahmad
II (tahun 1102-1106 H/1691-1695 M)
Mushthafa
II (tahun 1106-1115 H/1695-1703 M)
Ahmad
III (tahun 1115-1143 H/1703-1730 M)
Mahmud
I (tahun 1143-1168 H/1730-1754 M)
Utsman
III (tahun 1168-1171 H/1754-1757 M)
Musthafa
III (tahun 1171-1187 H/1757-1774 M)
Abdul
Hamid I (tahun 1187-1203 H/1774-1789 M)
Salim
III (tahun 1203-1222 H/1789-1807 M)
Musthafa
IV (tahun 1222-1223 H/1807-1808 M)
Mahmud
II (tahun 1223-1255 H/1808-1839 M)
Abdul
Majid I (tahun 1255 H-1277 H/1839-1861 M)
‘Abdul
‘Aziz I (tahun 1277-1293 H/1861-1876 M)
Murad
V (tahun 1293-1293 H/1876-1876 M)
‘Abdul
Hamid II (tahun 1293-1328 H/1876-1909 M)
Muhammad
Risyad V (tahun 1328-1338 H/1909-1918 M)
Muhammad
Wahiddin (II) (th. 1338-1340 H/1918-1922 M)
‘Abdul
Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M).
Khalifah
terakhir umat Islam sedunia adalah ‘Abdul Majid II. Semenjak tumbangnya
khilafah terakhir ini, berarti umat Islam telah hidup lebih dari selama
(2006-1924= 82 tahun) tanpa keberadaan lembaga yang menyatukan.
Kepastian
Kembalinya Khilafah
Lepas
dari realitas di lapangan yang kurang menggembirakan, di mana umat Islam saat
in menjadi budak barat, kekayaan alam mereka dijarah, ekonomi mereka terpuruk,
nilai mata uang mereka sangat rendah, hutang luar negeri merekabertumpuk tak terbayar,
pemuda mereka dirusak, wanita mereka menjadi hamba syahwat, bahkan masih
ditambah lagi dengan rombongan Islam liberal dan sebagainya, namunmasih ada
harapan.
Kita
masih menemukan satu hadits dari Rasulullah SAW yang cukup melegakan, yaitu
kabar gembira dari beliau bahwa suatu saat, khilafah ini akan kembali
terbentuk, bahkan dengan kualitasnya yang rasyidah itu.
Sabda
Rasulullah saw, “Kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan
manhaj Nabi”.
Namun
tentunya khilafah ini tidak akan terbentuk begitu saja, bila hanya dengan doa
dan diam saja. Atau hanya dengan bicara dan demonstrasi saja. Setiap umat Islam
meski bersinergi untuk saling menguatkan dan saling menyokong semua upaya untuk
kembali kepada khilafah Islamiyah.
Sebab
setiap elemen umat punya potensi yang mungkin tidak dimiliki oleh saudaranya.
Maka seruan untuk kembali kepada khilafah seharusnya bukan sekedar lips
service, namun harus diiringi dengan kerja nyata, pembinaan dan pengkaderan 1,5
milyar umat, pendirian lembaga pendidikan dan sekian banyak pos-pos penting
umat. Lantas diiringi juga dengan kebesaran hati, keterbukaan sikap serta jiwa
kepemimpinan dunia Islam yang mumpuni.
Semoga
Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat menyaksikan beridirnya
khilafah Islamiyah semasa kita hidup. Sungguh sebuah kepuasan yang dimpikan
oleh dunia Islam selama ini.
No comments:
Post a Comment